3492 views
Photo by Jimmy Whitson via Unsplash.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

Hong Kong merevisi ordinansi perbankannya untuk memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi institusi keuangan dalam berbagi informasi terkait dugaan penipuan, pencucian uang, dan pendanaan terorisme. Langkah ini dinilai regulator akan meningkatkan efektivitas penanganan kejahatan finansial sekaligus mengurangi gangguan sistem akibat fraud.

Banking (Amendment) Ordinance 2025 memperkenalkan mekanisme safe harbour yang memberikan perlindungan hukum bagi institusi yang diizinkan ketika berbagi data untuk mendeteksi atau mencegah aktivitas terlarang. Perubahan ini diharapkan mendorong bank lebih proaktif dalam menandai rekening mencurigakan dan menghentikan aliran dana ilegal.

“Ordinansi ini memberikan perlindungan hukum tertentu kepada institusi yang diizinkan, sekaligus tetap mewajibkan mereka menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi,” kata Raymond Chan, Executive Director for Enforcement and Anti-Money Laundering di Hong Kong Monetary Authority, kepada Asian Banking & Finance.

Menurut Chan, perlindungan hukum tersebut memungkinkan institusi keuangan berbagi informasi yang lebih luas tanpa takut menghadapi tanggung jawab hukum. Ia berharap langkah ini dapat meningkatkan jumlah rekening mencurigakan yang teridentifikasi, memperbesar peluang intersepsi dana ilegal, serta memungkinkan pengembalian dana kepada korban penipuan.

Ia juga menilai penguatan pertukaran data dapat membantu kepolisian menindak pelaku kriminal yang memanfaatkan sistem perbankan Hong Kong.

Aturan baru ini mengizinkan berbagi data ketika bank menemukan aktivitas yang mengindikasikan keterlibatan dalam tindakan terlarang. Namun, Chan menegaskan ambang batasnya tetap lebih tinggi dari sekadar kecurigaan dasar. “Kami tidak membayangkan adanya pertukaran data antarbank tanpa dasar kecurigaan dalam konteks ini,” ujarnya.

Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari Financial Intelligence Evaluation Sharing Tool yang diluncurkan pada 2023 oleh bank sentral Hong Kong bersama Kepolisian Hong Kong dan Hong Kong Association of Banks. Platform tersebut telah mendukung lebih dari 1.200 laporan terkait rekening korporasi yang mencurigakan.

Meski demikian, Chan menyoroti bahwa rekening korporasi hanya sebagian dari persoalan. “Sekitar 90% rekening yang digunakan untuk memindahkan dan menyamarkan hasil kejahatan, atau yang dikenal sebagai mule accounts, justru dimiliki individu, bukan korporasi,” katanya.

Platform tersebut kini tengah diperluas agar mencakup rekening individu, dengan peluncuran yang direncanakan pada akhir tahun ini.

Partisipasi dalam sistem yang diperluas tetap bersifat sukarela. Chan menilai kewajiban berbagi informasi secara mandatory justru berpotensi kontraproduktif karena dapat memicu lonjakan laporan berkualitas rendah dan membebani proses operasional bank.

Ia juga menyoroti masalah dalam pelaporan transaksi mencurigakan atau Suspicious Transaction Reports (STR). Karena risiko sanksi jika gagal melapor, banyak bank cenderung melakukan pelaporan defensif ketika terdapat keraguan. “Kami ingin pertukaran informasi lebih terfokus dan menghasilkan intelligence yang bisa ditindaklanjuti, dalam bentuk STR yang lebih berkualitas,” ujarnya.

Di sisi lain, bank sentral Hong Kong juga memperkuat perlindungan konsumen. Pada Desember 2024, regulator meluncurkan fitur Money Safe, serupa konsep “money lock” di Singapura, yang memungkinkan nasabah memisahkan sebagian dana simpanan hingga proses verifikasi anti-fraud selesai.

Langkah lain yang diterapkan mencakup sistem autentikasi dalam aplikasi yang mengutamakan perangkat terikat dibandingkan kode OTP melalui SMS, opsi menonaktifkan fitur digital banking berisiko tinggi, peringatan real-time untuk membatalkan transaksi mencurigakan, serta teknologi deteksi deepfake.

Chan menilai kombinasi antara berbagi data lintas industri dan penguatan perlindungan konsumen akan membantu bank merespons kasus fraud dan pencucian uang dengan lebih cepat dan efektif.

Follow the link for more news on

BofA: peran treasury bergeser ke advisory strategis

Klien-klien menahan lebih banyak likuiditas di Singapura di tengah ketidakpastian.

UKM China perluas jangkauan ke ASEAN melalui model digital-first

Barang konsumen, solusi digital, dan logistik mendorong ekspansi ke luar negeri.

Standard Chartered dan A*STAR bentuk laboratorium untuk perkuat wealth management dan lawan penipuan

Kerja sama senilai $11,7 juta dengan ASTAR ini menghadirkan 10 peneliti ASTAR untuk mengeksplorasi dukungan wealth management dan pengendalian penipuan.

Bank Singapura tingkatkan kehati-hatian dengan perketat perekrutan

Jumlah tenaga kerja di 15 lender hanya naik 0,005% pada 2025.

Meningkatnya IPO picu perekrutan karyawan bank di Hong Kong

Tenaga kerja di 15 lender turun 0,73% menjadi 74.

Kenaikan suku bunga Australia berpotensi memperlambat penyaluran kredit di bank-bank besar

Aktivitas refinancing diperkirakan meningkat seiring nasabah mencari suku bunga KPR yang lebih murah.

Nasabah wealth alihkan fokus dari imbal hasil ke keamanan masa pensiun

Para penasihat keuangan dituntut memberikan layanan yang lebih cepat dan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.