, Indonesia
4657 views

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Bank dan perusahaan asuransi di Asia Tenggara mulai kembali ke pendekatan dasar dalam pengembangan aplikasi digital, dengan fokus pada kebutuhan nyata pengguna—seperti klaim yang cepat, sistem yang aman, dan fitur yang benar-benar bermanfaat—alih-alih berlomba menjadi super app.

Dalam Asian Banking & Finance–Insurance Asia Summit 2025 di Jakarta pada Juni, para eksekutif dari PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC Indonesia), Astra Life, Bank Tabungan Negara (BTN), dan PT Asuransi Central Asia (ACA) menyoroti pergeseran prioritas pengembangan aplikasi dari sekadar banyak fitur menuju relevansi fungsi.

“Kami tidak berupaya membangun aplikasi paling besar dibanding pesaing,” kata Windy Riswantyo, Group Head Astra Life. “Kami membangun untuk melayani kebutuhan nasabah.”

Aplikasi My Astra Life yang diluncurkan pada 2021 menempatkan layanan klaim sebagai inti pengalaman pengguna. Fitur seperti e-claims dan e-cards memungkinkan nasabah mengelola manfaat kesehatan, investasi, dan dana pensiun dalam satu platform.

“Penggunaan tertinggi datang dari layanan terkait klaim. Di situlah nilai utamanya,” ujarnya.

Di sisi lain, kontribusi kanal digital di ACA saat ini baru sekitar 1% dari total pendapatan. Meski demikian, hal itu tidak menghalangi perusahaan untuk terus berinvestasi dalam pengembangan aplikasi yang memudahkan pengguna melihat polis dan mengajukan klaim.

“Kami membangun untuk Gen Z,” kata Chief Financial Officer ACA, Indrawati Darmawan. “Meski mereka belum menjadi pembeli saat ini, kami tidak ingin memulai dari nol ketika mereka siap.”

BTN mengambil pendekatan berbeda dengan berupaya menjadi bagian dari rutinitas harian pengguna. “Kami ingin hadir dalam keseharian nasabah sejak awal,” kata Tresia Sarumpaet, Head of Digital Retail BTN.

Karena itu, aplikasi BTN tidak hanya menawarkan layanan perbankan, tetapi juga fitur pembayaran QRIS lintas negara, pemesanan tiket pesawat dan kereta, layanan perbaikan rumah, hingga akses ke terapis.

“Ini bukan sekadar aplikasi perbankan, tetapi pusat aktivitas harian,” kata Tresia.

Sementara itu, OCBC Indonesia menempatkan pembangunan fondasi teknologi sebagai prioritas utama untuk menciptakan pengalaman yang aman dan terpersonalisasi.

“Jangan langsung melompat ke kecerdasan buatan (AI),” kata Phillip Thomas, Head of Analytics and Decision-Making OCBC Indonesia. “Fondasi harus dibangun lebih dulu—data harus terstruktur, dibersihkan, dan dianalisis. Baru kemudian AI bisa menciptakan nilai.”

OCBC mengalokasikan sekitar 80% waktu pengembangan aplikasi untuk infrastruktur, termasuk sistem deteksi fraud dan anti pencucian uang. “Keamanan bukan fitur tambahan—itu standar dasar,” ujarnya.

Bank ini juga menghadirkan fitur Life Goals yang membantu nasabah memetakan tujuan finansial sekaligus menerima rekomendasi produk yang lebih personal, dengan dukungan analisis perilaku pengguna di balik layar.

“Ini bukan soal menjual produk, tetapi membantu nasabah mengambil keputusan yang lebih baik,” katanya.

Meski begitu, keempat institusi sepakat bahwa tidak semua layanan harus dimasukkan ke dalam aplikasi. Astra Life, misalnya, pernah mempertimbangkan fitur klaim pensiun, tetapi membatalkannya setelah menyadari bahwa segmen pengguna yang lebih senior mungkin hanya akan menggunakannya sekali.

“Hanya karena sesuatu bisa dibuat, bukan berarti harus dibuat,” ujar Riswantyo.

Pergeseran ini mencerminkan pendekatan digital yang lebih matang. “Kami melihat banyak perusahaan menghabiskan anggaran besar untuk terlihat relevan,” kata Phillip. “Padahal, relevansi datang dari keandalan. Jika aplikasi bekerja dengan baik dan menjawab kebutuhan nyata, nasabah akan tetap bertahan.”

Bagi ACA, strategi ini berorientasi jangka panjang. “Kami tidak mengejar monetisasi dari jumlah unduhan aplikasi,” kata Indrawati. “Kami berinvestasi agar tetap relevan ketika generasi digital-first menjadi mayoritas.”

Pada akhirnya, keberhasilan di pasar aplikasi yang semakin padat tidak lagi ditentukan oleh fitur paling mencolok, melainkan oleh kemampuan menjadi bagian yang benar-benar dibutuhkan pengguna.

“Anda tidak menghasilkan uang hanya dari tampilan antarmuka yang menarik,” kata Phillip. “Anda menghasilkan nilai dengan memahami nasabah. Selebihnya hanyalah kemasan.”

BofA: peran treasury bergeser ke advisory strategis

Klien-klien menahan lebih banyak likuiditas di Singapura di tengah ketidakpastian.

UKM China perluas jangkauan ke ASEAN melalui model digital-first

Barang konsumen, solusi digital, dan logistik mendorong ekspansi ke luar negeri.

Standard Chartered dan A*STAR bentuk laboratorium untuk perkuat wealth management dan lawan penipuan

Kerja sama senilai $11,7 juta dengan ASTAR ini menghadirkan 10 peneliti ASTAR untuk mengeksplorasi dukungan wealth management dan pengendalian penipuan.

Bank Singapura tingkatkan kehati-hatian dengan perketat perekrutan

Jumlah tenaga kerja di 15 lender hanya naik 0,005% pada 2025.

Meningkatnya IPO picu perekrutan karyawan bank di Hong Kong

Tenaga kerja di 15 lender turun 0,73% menjadi 74.

Kenaikan suku bunga Australia berpotensi memperlambat penyaluran kredit di bank-bank besar

Aktivitas refinancing diperkirakan meningkat seiring nasabah mencari suku bunga KPR yang lebih murah.

Nasabah wealth alihkan fokus dari imbal hasil ke keamanan masa pensiun

Para penasihat keuangan dituntut memberikan layanan yang lebih cepat dan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.