, Philippines
1326 views
Deputy Governor Mamerto Tangonan of the BSP.

Bank sentral Filipina bersiap untuk transfer cross-border secara instan

Otoritas moneter di Asia bersiap meluncurkan Project Nexus ke pasar.

Filipina tengah bekerja sama dengan Malaysia dan Jepang untuk menghubungkan sistem pembayaran instan mereka bagi para merchant, meskipun tujuan akhirnya adalah melampaui hubungan bilateral menuju pendekatan multilateral, menurut seorang pejabat senior bank sentral.

“Kami membayangkan para merchant di sini dapat menerima pembayaran dari turis Malaysia atau warga Malaysia yang tinggal di Filipina, dan sebaliknya,” kata Mamerto Tangonan, Wakil Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) kepada Asian Banking & Finance.

Tangonan, yang juga menjabat sebagai head of payment dan currency di BSP, mengatakan Filipina sudah lebih dari siap untuk pembayaran dan transaksi cross-border secara instan.

“Kami sudah memiliki sistem pembayaran instan sejak 2018,” katanya melalui Zoom. “Yang perlu kami lakukan dari sisi teknologi hanyalah menghubungkannya dengan sistem pembayaran lain melalui sebuah hub.”

Setelah berhasil, sebuah bank sentral seperti BSP hanya perlu menghubungkan sistem pembayarannya ke satu jaringan dan secara otomatis memiliki akses ke banyak yurisdiksi. Namun, hal ini agak rumit karena perbedaan aturan anti-money laundering yang di setiap negara, katanya.

Financial Action Task Force (FATF) yang berbasis di Paris pada Februari telah menghapus Filipina dari daftar yurisdiksi yang berada dalam pemantauan ketat terkait risiko “dirty money,” dengan mengutip kemajuan dalam upaya negara tersebut melawan pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Filipina telah masuk dalam daftar abu-abu sejak Juni 2021. Tangonan mengatakan bahwa harmonisasi aturan anti-money laundering membutuhkan banyak pekerjaan, termasuk memastikan bahwa setiap transaksi bebas dari noda kecurangan.

Penerapan ISO 20022 yang merupakan standar pertukaran data elektronik antar bank secara global sedikit banyak telah membantu mengurangi tantangan ini.

Filipina juga menjadi bagian dari Project Nexus, sebuah inisiatif dari Innovation Hub milik Bank for International Settlements (BIS) yang bertujuan untuk menyeragamkan cara sistem pembayaran instan saling terhubung.

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pembayaran cross-border dengan menghubungkan berbagai sistem pembayaran instan domestik di seluruh dunia untuk menciptakan transaksi internasional yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah diakses.

Tangonan mengatakan sejumlah bank sentral di Asia, termasuk Singapura, Thailand, Malaysia, India, dan Filipina, saat ini berada pada tahap akhir pengembangan dan peluncuran Project Nexus ke pasar.

Tangonan optimistis Nexus juga akan memberi manfaat bagi bank-bank daerah dan penerbit uang elektronik non-bank, yang nasabahnya mencakup keluarga para pekerja migran Filipina yang secara rutin mengirim uang pulang.

“Ini memperluas akses terhadap pembayaran cross-border,” katanya. “Kini, misalnya, penerima kiriman uang dari luar negeri dapat langsung menerima dana ke rekening mereka meskipun itu di bank daerah dengan biaya yang sangat rendah, kecepatan sangat tinggi, dan cara yang sangat transparan.”

Pada 2027, seorang warga Filipina bisa bepergian ke Singapura dan cukup memindai QR Code PayNow milik Singapura untuk melakukan pembayaran, kata Tangonan. “Anda bisa makan laksa di hawker center. Sedangkan untuk turis yang datang ke Boracay, mereka bisa membeli taho (puding tahu manis) hanya dengan memindai QR Code PH dari pedagang taho.”

Ia mengatakan biaya pembayaran cross-border melalui Project Nexus akan berada “jauh di bawah” tarif yang direkomendasikan negara-negara G20. Pembayaran akan dikreditkan dalam waktu kurang dari satu menit, tambahnya.

 

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.