, Philippines
1274 views
Deputy Governor Mamerto Tangonan of the BSP.

Bank sentral Filipina bersiap untuk transfer cross-border secara instan

Otoritas moneter di Asia bersiap meluncurkan Project Nexus ke pasar.

Filipina tengah bekerja sama dengan Malaysia dan Jepang untuk menghubungkan sistem pembayaran instan mereka bagi para merchant, meskipun tujuan akhirnya adalah melampaui hubungan bilateral menuju pendekatan multilateral, menurut seorang pejabat senior bank sentral.

“Kami membayangkan para merchant di sini dapat menerima pembayaran dari turis Malaysia atau warga Malaysia yang tinggal di Filipina, dan sebaliknya,” kata Mamerto Tangonan, Wakil Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) kepada Asian Banking & Finance.

Tangonan, yang juga menjabat sebagai head of payment dan currency di BSP, mengatakan Filipina sudah lebih dari siap untuk pembayaran dan transaksi cross-border secara instan.

“Kami sudah memiliki sistem pembayaran instan sejak 2018,” katanya melalui Zoom. “Yang perlu kami lakukan dari sisi teknologi hanyalah menghubungkannya dengan sistem pembayaran lain melalui sebuah hub.”

Setelah berhasil, sebuah bank sentral seperti BSP hanya perlu menghubungkan sistem pembayarannya ke satu jaringan dan secara otomatis memiliki akses ke banyak yurisdiksi. Namun, hal ini agak rumit karena perbedaan aturan anti-money laundering yang di setiap negara, katanya.

Financial Action Task Force (FATF) yang berbasis di Paris pada Februari telah menghapus Filipina dari daftar yurisdiksi yang berada dalam pemantauan ketat terkait risiko “dirty money,” dengan mengutip kemajuan dalam upaya negara tersebut melawan pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Filipina telah masuk dalam daftar abu-abu sejak Juni 2021. Tangonan mengatakan bahwa harmonisasi aturan anti-money laundering membutuhkan banyak pekerjaan, termasuk memastikan bahwa setiap transaksi bebas dari noda kecurangan.

Penerapan ISO 20022 yang merupakan standar pertukaran data elektronik antar bank secara global sedikit banyak telah membantu mengurangi tantangan ini.

Filipina juga menjadi bagian dari Project Nexus, sebuah inisiatif dari Innovation Hub milik Bank for International Settlements (BIS) yang bertujuan untuk menyeragamkan cara sistem pembayaran instan saling terhubung.

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pembayaran cross-border dengan menghubungkan berbagai sistem pembayaran instan domestik di seluruh dunia untuk menciptakan transaksi internasional yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih mudah diakses.

Tangonan mengatakan sejumlah bank sentral di Asia, termasuk Singapura, Thailand, Malaysia, India, dan Filipina, saat ini berada pada tahap akhir pengembangan dan peluncuran Project Nexus ke pasar.

Tangonan optimistis Nexus juga akan memberi manfaat bagi bank-bank daerah dan penerbit uang elektronik non-bank, yang nasabahnya mencakup keluarga para pekerja migran Filipina yang secara rutin mengirim uang pulang.

“Ini memperluas akses terhadap pembayaran cross-border,” katanya. “Kini, misalnya, penerima kiriman uang dari luar negeri dapat langsung menerima dana ke rekening mereka meskipun itu di bank daerah dengan biaya yang sangat rendah, kecepatan sangat tinggi, dan cara yang sangat transparan.”

Pada 2027, seorang warga Filipina bisa bepergian ke Singapura dan cukup memindai QR Code PayNow milik Singapura untuk melakukan pembayaran, kata Tangonan. “Anda bisa makan laksa di hawker center. Sedangkan untuk turis yang datang ke Boracay, mereka bisa membeli taho (puding tahu manis) hanya dengan memindai QR Code PH dari pedagang taho.”

Ia mengatakan biaya pembayaran cross-border melalui Project Nexus akan berada “jauh di bawah” tarif yang direkomendasikan negara-negara G20. Pembayaran akan dikreditkan dalam waktu kurang dari satu menit, tambahnya.

 

BofA: peran treasury bergeser ke advisory strategis

Klien-klien menahan lebih banyak likuiditas di Singapura di tengah ketidakpastian.

UKM China perluas jangkauan ke ASEAN melalui model digital-first

Barang konsumen, solusi digital, dan logistik mendorong ekspansi ke luar negeri.

Standard Chartered dan A*STAR bentuk laboratorium untuk perkuat wealth management dan lawan penipuan

Kerja sama senilai $11,7 juta dengan ASTAR ini menghadirkan 10 peneliti ASTAR untuk mengeksplorasi dukungan wealth management dan pengendalian penipuan.

Bank Singapura tingkatkan kehati-hatian dengan perketat perekrutan

Jumlah tenaga kerja di 15 lender hanya naik 0,005% pada 2025.

Meningkatnya IPO picu perekrutan karyawan bank di Hong Kong

Tenaga kerja di 15 lender turun 0,73% menjadi 74.

Kenaikan suku bunga Australia berpotensi memperlambat penyaluran kredit di bank-bank besar

Aktivitas refinancing diperkirakan meningkat seiring nasabah mencari suku bunga KPR yang lebih murah.

Nasabah wealth alihkan fokus dari imbal hasil ke keamanan masa pensiun

Para penasihat keuangan dituntut memberikan layanan yang lebih cepat dan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.