1101 views
Vishal Shah of GXS Bank (Photo from Linkedin).

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

GXS Bank Pte. Ltd. mempercepat ekspansi pembiayaan bisnis di Singapura dengan target mempersempit kesenjangan pendanaan UMKM yang diperkirakan mencapai S$18 miliar hingga S$20 miliar.

“Dari 15 April hingga 31 Agustus, kami berhasil menumbuhkan portofolio pinjaman sebesar 54%,” kata Vishal Shah, Managing Director sekaligus Group Head of Business Banking GXS, kepada Asian Banking & Finance.

Bank digital yang didukung Grab Holdings, Inc. dan Singapore Telecommunications Ltd. (Singtel) ini mengakuisisi fintech peer-to-business Validus Capital Pte. Ltd. pada April. Setelah transaksi tersebut, unit tersebut diubah mereknya menjadi GXS Capital dan portofolio pinjaman UMKM pun diperluas.

Shah mengatakan Validus tetap mempertahankan tim senior dan basis nasabahnya setelah akuisisi, sementara GXS memanfaatkan ekosistem perusahaan induk untuk menambah klien baru. Pemasok dari Grab dan Singtel mulai direkrut, dengan rencana kemitraan lanjutan ke depan.

Bank juga meluncurkan skema pembiayaan pre-qualified bagi merchant Grab dan pelanggan Singtel, dengan memanfaatkan data transaksi untuk menghasilkan penawaran pinjaman yang lebih terarah. Misalnya, pelaku usaha makanan dan minuman yang beroperasi di platform Grab atau pelanggan layanan broadband Singtel dapat memperoleh akses pembiayaan yang disesuaikan.

GXS menyebut inisiatif ini sebagai langkah penting untuk memperbesar skala pembiayaan UMKM sekaligus menjawab kekurangan pendanaan yang masih terjadi di Singapura.

Menurut Shah, meskipun sektor perbankan di Singapura tergolong matang untuk segmen konsumen, kesenjangan pendanaan di segmen bisnis masih cukup besar. Salah satu penyebabnya adalah banyak lembaga pembiayaan tradisional yang mensyaratkan rekam jejak usaha minimal tiga tahun sebelum memberikan pembiayaan, terutama kredit tanpa agunan.

UMKM yang belum memiliki rekam jejak tersebut umumnya hanya ditawari fasilitas dengan agunan, seperti properti atau kas. Selain itu, banyak lembaga keuangan masih menggunakan pendekatan underwriting tradisional serta menetapkan harga pinjaman yang relatif tinggi dibandingkan pinjaman konsumer.

Terkait integrasi pasca akuisisi, Shah mengatakan Validus memperoleh akses terhadap sumber pendanaan yang lebih kompetitif dari GXS Bank. Sementara itu, layanan yang dikembangkan GXS Bank dan GXS Capital dinilai saling melengkapi dari sisi solusi keuangan.

Ia menyebut hasil awal integrasi menunjukkan perkembangan yang positif, tercermin dari pertumbuhan portofolio pinjaman sebesar 54% dalam periode kurang dari lima bulan.

Beberapa faktor utama yang mendorong keputusan akuisisi antara lain kapabilitas teknologi Validus, akses data yang telah dibangun selama sekitar 10 tahun di pasar Singapura, jaringan mitra, basis nasabah yang sudah ada, serta kualitas sumber daya manusia.

Setelah akuisisi, seluruh pinjaman baru kini disalurkan melalui neraca bank. Strategi pertama yang dilakukan adalah mempertahankan dan memperdalam hubungan dengan nasabah eksisting, termasuk menawarkan skema pembiayaan dengan harga yang lebih kompetitif dibanding sebelumnya.

Langkah berikutnya adalah melakukan onboarding nasabah baru melalui rantai nilai mitra korporasi yang sudah bekerja sama dengan GXS Capital, seperti Seatrium Group, SMRT Corp., dan Singapore Technologies Engineering Ltd. Melalui pendekatan ini, bank berhasil menarik lebih banyak pemasok dari berbagai grup usaha besar.

GXS Capital juga tercatat sebagai lembaga pembiayaan resmi bagi vendor di platform pemerintah di bawah Infocomm Media Development Authority (IMDA). Sebagai approved financier untuk skema receivable finance, GXS Capital dapat menarik pengguna baru yang memasok barang dan jasa kepada lembaga pemerintah seperti Land Transport Authority, Public Utility Board, dan Housing Development Board.

Melalui kombinasi strategi tersebut, GXS Bank mampu menambah pengguna baru, memperluas kemitraan korporasi, serta mempercepat pertumbuhan bisnis pembiayaan UMKM di Singapura.

Follow the link for more news on

BofA: peran treasury bergeser ke advisory strategis

Klien-klien menahan lebih banyak likuiditas di Singapura di tengah ketidakpastian.

UKM China perluas jangkauan ke ASEAN melalui model digital-first

Barang konsumen, solusi digital, dan logistik mendorong ekspansi ke luar negeri.

Standard Chartered dan A*STAR bentuk laboratorium untuk perkuat wealth management dan lawan penipuan

Kerja sama senilai $11,7 juta dengan ASTAR ini menghadirkan 10 peneliti ASTAR untuk mengeksplorasi dukungan wealth management dan pengendalian penipuan.

Bank Singapura tingkatkan kehati-hatian dengan perketat perekrutan

Jumlah tenaga kerja di 15 lender hanya naik 0,005% pada 2025.

Meningkatnya IPO picu perekrutan karyawan bank di Hong Kong

Tenaga kerja di 15 lender turun 0,73% menjadi 74.

Kenaikan suku bunga Australia berpotensi memperlambat penyaluran kredit di bank-bank besar

Aktivitas refinancing diperkirakan meningkat seiring nasabah mencari suku bunga KPR yang lebih murah.

Nasabah wealth alihkan fokus dari imbal hasil ke keamanan masa pensiun

Para penasihat keuangan dituntut memberikan layanan yang lebih cepat dan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.