, Indonesia
1360 views

Bank DBS Indonesia mendorong ESG melalui spark savings

Rekening tabungan ini menawarkan bunga tahunan hingga 3,25%.

Bank DBS  Indonesia telah mengubah produk Green Savings menjadi Spark Savings, yang memungkinkan pemegang rekening menyumbangkan sebagian dari bunga yang mereka terima kepada mitra sosial.

“Fokus konsumen yang semakin besar terhadap keberlanjutan kini semakin memengaruhi strategi bisnis perusahaan,” kata Melfrida Gultom, Direktur Consumer Banking Group di DBS Bank Indonesia kepada Asian Banking & Finance melalui email.

“Kami melihat tren ini sebagai peluang untuk meningkatkan keterlibatan nasabah dalam inisiatif ESG (Environmental, Social, and Governance) kami,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa Spark Savings memungkinkan nasabah berpartisipasi dalam berbagai inisiatif keberlanjutan yang berfokus pada lingkungan, pendidikan, dan masyarakat, sejalan dengan meningkatnya kesadaran publik terhadap keuangan berkelanjutan.

Produk keuangan ini membuat proses donasi menjadi mudah hanya dengan menabung, memastikan transparansi melalui laporan kontribusi, serta memberikan akses yang mudah melalui cabang, mesin ATM, phone banking, atau aplikasi DBS.

Spark Savings menawarkan suku bunga tahunan hingga 3,25% dan laporan berkala tentang penyaluran dana kepada mitra sosial yang telah dikurasi, yang dikirimkan melalui email.

Spark Savings merupakan bagian dari upaya DBS Bank Indonesia untuk mengintegrasikan prinsip ESG dalam layanan perbankan, kata Mona Monika, Head of Group Strategic Marketing and Communications di DBS Bank Indonesia.

“Kami secara aktif mengedukasi nasabah mengenai pentingnya keberlanjutan melalui berbagai platform digital dan program literasi keuangan,” katanya. “Dengan cara ini, kami berharap nasabah tidak hanya memahami ESG, tetapi juga menerapkannya dalam pengambilan keputusan finansial mereka.”

Bagi nasabah korporat, DBS Bank Indonesia menawarkan pinjaman dan obligasi berprinsip keberlanjutan (sustainability-linked loans and bonds) untuk mendukung proyek-proyek energi yang lebih ramah lingkungan.
Bank tersebut menyatakan bahwa pembiayaan hijau dan sosial mereka telah mencapai lebih dari US$368 juta (Rp6 triliun) per November 2024.

Monika mengatakan bahwa DBS menerapkan manajemen risiko untuk memastikan setiap keputusan bisnis tetap menguntungkan tanpa mengorbankan aspek keberlanjutan.

“Adopsi teknologi juga menjadi bagian penting dari strategi ESG DBS, misalnya melalui aplikasi digibank by DBS, yang mengurangi ketergantungan pada kertas dan cabang fisik dalam transaksi perbankan,” tambahnya.

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.