PvX dorong pembiayaan berbasis pendapatan untuk aplikasi konsumen
Persaingan yang dipicu AI diperkirakan mendorong kebutuhan modal pemasaran.
PvX Capital Pte. Ltd. mempromosikan pembiayaan berbasis pendapatan (revenue-based lending) sebagai alternatif pembiayaan ekuitas bagi perusahaan aplikasi konsumen, dengan menyebut skema ini dapat membantu para pengembang mendanai akuisisi pelanggan tanpa harus melepas kepemilikan perusahaan.
“Tantangan terbesarnya adalah mengedukasi pasar, memperkenalkan instrumen ini, dan menyebarkan informasinya,” kata Joe Wadakethalakal, co-founder sekaligus CEO PvX Capital, kepada Asian Banking & Finance. “Itu jadi fokus utama kami.”
Ia mengatakan banyak pendiri startup masih mengandalkan ekuitas karena belum familiar dengan cara lain untuk mendanai pemasaran.
Salah satu peminjam, penerbit gim mobile asal Siprus, Malpa Games, memperoleh fasilitas kredit senilai US$20 juta yang memungkinkan mereka membiayai hingga 80% belanja akuisisi pengguna selama 12 bulan.
Berbeda dari pinjaman konvensional, fasilitas ini tidak mensyaratkan ekuitas, kekayaan intelektual, atau aset lain sebagai jaminan. Sebagai gantinya, pembayaran cicilan dikaitkan dengan pendapatan yang dihasilkan dari pengguna yang diperoleh lewat kampanye pemasaran yang dibiayai tersebut.
PvX menyebutkan Malpa memanfaatkan fasilitas ini selama lima bulan untuk mendanai sebagian besar belanja pemasarannya, sehingga berhasil menghemat lebih dari US$3 juta dalam bentuk kas, sekaligus meningkatkan belanja pemasaran sebesar 81% sejak Januari 2025. Perusahaan juga memanfaatkan modal yang terbebaskan itu untuk merilis tiga judul gim tambahan.
Wadakethalakal mengatakan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan mempercepat kemunculan aplikasi konsumen baru, sehingga membuat persaingan akuisisi pelanggan semakin ketat.
“Dengan kecerdasan buatan (AI), jumlah perusahaan aplikasi konsumen baru yang akan bermunculan bakal meningkat sangat besar... karena kini siapa pun bisa membuat aplikasi konsumen,” katanya melalui Zoom.
Digital Applied LLC memperkirakan belanja iklan mobile global akan melampaui US$430 miliar pada 2026, sementara rata-rata biaya instalasi aplikasi global (cost per install) mencapai US$3,60 pada kuartal pertama.
Hingga akhir Juni, PvX telah membiayai sedikit lebih dari 50 perusahaan, sebagian besar berada di Eropa, Timur Tengah, Hong Kong, Australia, dan Amerika Serikat. Meski berkantor pusat di Singapura, perusahaan ini belum pernah menyalurkan pembiayaan ke perusahaan mana pun di Asia Tenggara.
Wadakethalakal mengatakan hanya sedikit perusahaan aplikasi konsumen di kawasan ini yang memenuhi syarat minimum perusahaan, yakni belanja pemasaran bulanan sekitar US$200.000–US$300.000 dan setidaknya enam bulan data operasional.
Grand View Research memproyeksikan pasar aplikasi mobile global akan tumbuh menjadi US$885,3 miliar pada 2033, dari US$322,6 miliar pada 2026, dengan kawasan Asia-Pasifik tetap menjadi pasar terbesar.
Meski memiliki ambisi pertumbuhan yang besar, Wadakethalakal menegaskan menjaga disiplin underwriting tetap lebih penting ketimbang memperbesar volume pembiayaan.
“Kalau itu artinya pertumbuhan kami jadi lebih lambat, tidak masalah,” ujarnya. “Yang paling penting bagi kami adalah menjaga disiplin underwriting dan memastikan rekam jejak kami tetap terjaga.”