320 views
Growtika via Unsplash.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

Tiga kelompok perbankan terbesar Jepang kini beralih ke stablecoin guna mencegah dana simpanan dan aktivitas pembayaran nasabah beralih ke penerbit nonbank, seiring makin meluasnya penggunaan aset digital.

“Ketika tiga bank terbesar Jepang sepakat melakukan ini secara bersama-sama alih-alih saling bersaing, itu menunjukkan bahwa prioritas mereka adalah membangun infrastruktur bersama,” ujar Michael Benz, Head of Asia-Pacific Region di AMINA Group AG, dalam jawaban tertulis melalui email. “Kompetisi sesungguhnya mereka justru dengan para penerbit nonbank.”

Ia menjelaskan bahwa stablecoin yang diterbitkan perusahaan nonbank berpotensi menarik dana simpanan dan likuiditas keluar dari sektor perbankan. Dengan menerbitkan stablecoin sendiri, bank-bank dapat menjaga agar uang tetap berputar di dalam jaringan mereka, alih-alih kehilangan nasabah korporat ke platform eksternal.

Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc., Mizuho Financial Group, Inc., dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation mengumumkan pada 10 Juni rencana untuk melakukan transaksi komersial menggunakan stablecoin pada Maret 2027 mendatang.

Ketiga bank ini telah membentuk dewan sukarela untuk menyusun standar tata kelola, kerangka operasional, dan berbagai ketentuan lain guna mendukung transaksi stablecoin secara langsung. Mereka berencana bertindak sebagai lembaga penyelesaian (settlement) bersama untuk stablecoin tersebut.

Yuka Narita, Group Head of Business Development Group di Digital Strategy Department Sumitomo Mitsui Banking Corporation, mengatakan kemitraan ini berpotensi menghasilkan infrastruktur bersama yang mendukung lebih banyak jenis pengguna dan transaksi.

“Meski diskusi awal masih berfokus pada penggunaan di sektor korporat, berbagai kemungkinan aplikasi lain akan terus dieksplorasi seiring berjalannya waktu,” kata Narita dalam jawaban tertulis melalui email.

Sejumlah potensi aplikasi lainnya mencakup pembayaran lintas negara, penyelesaian aset digital (digital-asset settlement), dan pembayaran terprogram (programmable payments).

Narita menambahkan, ketiga bank tersebut kemungkinan akan mempertimbangkan untuk melibatkan lebih banyak lembaga keuangan dan pelaku industri lainnya ke dalam inisiatif ini.

Proyek ini melanjutkan langkah yang sebelumnya telah dirintis Sumitomo Mitsui di sektor ini. Pada April 2025, bank tersebut menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding) dengan Fireblocks Ltd., Ava Labs, Inc., dan TIS, Inc. untuk menyusun kerangka kerja penerbitan dan sirkulasi stablecoin.

“Wawasan yang diperoleh dari upaya-upaya tersebut, termasuk di bidang infrastruktur blockchain, keamanan, dan proses operasional, diharapkan dapat memperkaya diskusi dalam inisiatif bersama ini,” ujar Narita.

Menurut Benz, pembayaran lintas negara masih menjadi use case paling menjanjikan bagi stablecoin. Sistem pembayaran internasional konvensional kerap melibatkan banyak perantara dan bisa memakan waktu berhari-hari untuk penyelesaian transaksi, sementara stablecoin dapat menyelesaikan transfer dana hanya dalam hitungan menit, ujarnya.

Benz menilai teknologi ini berpotensi memberi manfaat bagi sekitar 300.000 nasabah korporat gabungan dari ketiga megabank tersebut, terutama perusahaan yang melakukan pembayaran lintas negara. Namun, ia mengaku kurang yakin dengan potensi penerapannya untuk transaksi ritel domestik.

“Kalau saya membeli kopi di Tokyo dan sistem pembayaran yang ada saat ini sudah berjalan baik—yang memang demikian—maka stablecoin sebenarnya tidak menyelesaikan masalah yang benar-benar dialami konsumen,” kata Benz.

Jepang pun turut bergabung dengan sejumlah pasar Asia lain yang tengah membangun kerangka kerja dan produk stablecoin. Di Hong Kong, regulator telah memberikan lisensi kepada sejumlah penerbit stablecoin, termasuk The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Ltd. dan sebuah joint venture yang melibatkan Standard Chartered Bank (Hong Kong) Ltd. Keduanya telah mengumumkan rencana untuk menerbitkan stablecoin berdenominasi dolar Hong Kong.

Benz menambahkan, kerangka regulasi Jepang memberikan peran sentral kepada bank dalam penerbitan stablecoin, yang di satu sisi meningkatkan kepercayaan institusional, namun di sisi lain membatasi persaingan dari pemain-pemain baru.

“Jepang memilih model dengan tingkat kepercayaan tinggi yang diperantarai bank (bank-intermediated), yang mencerminkan budaya finansial negaranya,” tuturnya. “Kerangka kerja yang lebih terbuka dari regulator memang mendorong inovasi, tetapi juga membutuhkan pengawasan yang lebih ketat. Masing-masing pendekatan mencerminkan prioritas dari sistem keuangan negaranya sendiri.”

Follow the link s for more news on

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.

DBS Indonesia luncurkan layanan portofolio SGD untuk nasabah kaya

Mandiri Investasi akan mengelola dana pada instrumen obligasi, saham, dan emas.

OCBC Hong Kong bentuk kelompok pelatih eksekutif untuk karyawan

Bank ini menargetkan 100 pelatih bersertifikat di seluruh grup pada akhir 2027.

CIMB permudah proses pembiayaan mobil pertama

Program ini mencakup pajak jalan, perlindungan kehilangan total kendaraan, dan Takaful.

PvX dorong pembiayaan berbasis pendapatan untuk aplikasi konsumen

Persaingan yang dipicu AI diperkirakan mendorong kebutuhan modal pemasaran.

OCBC perluas akses wealth management berbasis digital

Mobile banking membawa layanan investasi ke lebih banyak masyarakat Indonesia.

Western Union ubah strategi pengiriman uang

Akuisisi Dash mendukung ekspansi ke layanan kredit, pembayaran, dan jasa keuangan konsumen lainnya.