Western Union ubah strategi pengiriman uang
Akuisisi Dash mendukung ekspansi ke layanan kredit, pembayaran, dan jasa keuangan konsumen lainnya.
Western Union Company memperluas bisnisnya, dari sekadar transfer uang menjadi juga mencakup layanan kredit, pembayaran, dan berbagai layanan keuangan digital lainnya, seiring perusahaan beradaptasi dengan perubahan perilaku nasabah dan meningkatnya persaingan dari dompet digital, kata seorang eksekutif senior perusahaan.
“Selama ini Western Union berfokus pada pengirim (sender). Semuanya soal memahami apa yang dibutuhkan pengirim untuk mengirim uang, entah itu biaya remitansi, kurs valuta asing terbaik, atau opsi pencairan dana terbaik,” kata Vince Tallent, Senior Vice President sekaligus Head of Asia Pacific Western Union, kepada Asian Banking & Finance dalam wawancara melalui Microsoft Teams.
Ia mengatakan perusahaan-perusahaan teknologi finansial (fintech) kini mulai mengalihkan perhatian ke penerima (receiver), yang mendorong Western Union untuk memperluas layanan yang ditawarkan melalui dompet digital.
Tallent mengatakan Western Union ingin menjadikan dompet digital sebagai platform untuk lebih banyak layanan keuangan, bukan sekadar sarana menerima kiriman uang.
“Kami ingin melangkah lebih jauh untuk memahami nasabah, termasuk kebutuhan mereka yang melampaui sekadar transaksi remitansi,” ujarnya.
Tallent menjelaskan, akuisisi dompet digital Dash dari Singapore Telecommunications Ltd. yang rampung pada April lalu memberi Western Union platform untuk menawarkan layanan di luar remitansi.
Ia mengatakan data transaksi yang terkumpul melalui dompet digital tersebut dapat membantu Western Union menilai kelayakan kredit (creditworthiness) nasabah, dan pada akhirnya menawarkan pinjaman. Perusahaan juga berencana memungkinkan nasabah menggunakan dana kiriman untuk membeli layanan seperti paket data seluler.
“Hal pertama yang biasanya dilakukan penerima begitu menerima uang kiriman adalah mengisi pulsa ponsel atau membeli paket data,” kata Tallent.
Ia menambahkan, Western Union juga berencana meningkatkan kemampuan Dash dalam menangani pembayaran lintas negara, dengan memperluas jumlah koridor remitansi yang tersedia melalui jaringan globalnya.
Selain Dash, perusahaan ini juga menjalin kemitraan dengan ratusan dompet digital dan lembaga keuangan di seluruh dunia, termasuk Tencent dan GCash.
“Mitra kami sekarang bukan lagi sekadar agen, melainkan bank, dompet digital, dan perusahaan fintech,” kata Tallent.
Western Union juga meluncurkan stablecoin pertamanya, US Dollar Payment Token, pada Mei lalu. Meski tengah gencar berekspansi ke ranah digital, Tallent menegaskan uang tunai akan tetap penting bagi banyak nasabah yang belum sepenuhnya siap beralih ke dompet digital.
“Uang tunai akan tetap penting, dan masih relevan bagi segmen tertentu yang belum tentu ingin menggunakan aplikasi untuk mengirim uang,” katanya.
Western Union saat ini mengoperasikan sekitar 370.000 lokasi ritel di seluruh dunia, termasuk 185.000 di antaranya tersebar di kawasan Asia-Pasifik, yang menurut Tallent akan terus melayani nasabah yang lebih memilih bertransaksi secara tunai.