, APAC
1612 views
George Fong (Photo courtesy of the Bank of America)

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Treasurer korporasi di kawasan Asia-Pasifik kini mendorong penggunaan analitik, otomasi, dan pengurangan ketergantungan pada dokumen kertas dalam trade finance, di tengah meningkatnya ketidakpastian rantai pasok global akibat tensi geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

“Dalam situasi saat ini, treasurer ingin fokus pada stabilitas, prediktabilitas, serta ketahanan kas,” kata George Fong, Managing Director sekaligus Head of Trade and Supply Chain Finance Asia-Pacific di Bank of America (BofA), kepada Asian Banking & Finance. Menurutnya, nasabah juga menginginkan data prediktif yang lebih kuat dan komprehensif untuk kebutuhan analitik.

Volatilitas akibat sengketa tarif membuat perusahaan semakin menyadari eksposur risiko lintas negara. Para treasurer mencari cara yang lebih cepat untuk menyesuaikan struktur pembiayaan ketika rantai pasok berubah. Salah satu prioritas utama adalah mengurangi ketergantungan pada dokumentasi berbasis kertas.

Perusahaan kini semakin banyak menggunakan standby letter of credit dan skema open account—mekanisme kredit yang memungkinkan barang dikirim sebelum pembayaran—dibandingkan instrumen tradisional yang sarat dokumen fisik.

“Kami menyediakan solusi untuk menghilangkan penggunaan kertas dalam proses pembayaran open account,” kata Fong dalam wawancara melalui Microsoft Teams.

Meski permintaan terhadap solusi digital terus meningkat, bank dan penyedia layanan dinilai belum sepenuhnya berhasil menghadirkannya. Upaya industri sebelumnya, seperti platform perdagangan digital Bolero pada akhir 1990-an dan Trade Services Utility milik SWIFT yang ditutup pada 2020, gagal mencapai adopsi luas.

Rekam jejak tersebut membuat banyak pelaku industri bersikap lebih hati-hati. “Banyak pihak di industri maupun rantai pasok memilih pendekatan wait and see karena pengalaman masa lalu,” ujar Fong.

Kawasan Asia-Pasifik juga menghadapi tantangan tambahan. Berbeda dengan Eropa yang memiliki regulasi lebih harmonis, kerangka hukum yang terfragmentasi di APAC membuat adopsi lintas negara menjadi lebih rumit.

Masalah interoperabilitas turut menjadi hambatan. Kolaborasi antara fintech dan bank kerap melahirkan “pulau digital” yang terisolasi dan tidak terhubung dengan sistem lain, sehingga memperlambat komersialisasi solusi digital.

Meski demikian, ekspektasi nasabah terus meningkat. Klien menginginkan data yang tersaji secara mulus melalui application programming interface (API), dan sebagian mulai bermitra dengan fintech untuk solusi spesifik, termasuk di sektor komoditas.

Kemudahan dan kecepatan implementasi kini menjadi faktor krusial. “Kami mampu melakukan onboarding 80 pemasok di China dan India hanya dalam waktu satu minggu,” kata Fong. Proses onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih fleksibel ketika tarif atau pembatasan perdagangan memaksa perubahan pasar pemasok.

Sebagai respons, BofA menghadirkan platform CashPro dan CashPro Trade yang membantu nasabah korporasi mengelola treasury, trade, dan kredit dalam satu sistem terintegrasi.

Platform tersebut mendukung berbagai fungsi, mulai dari pembayaran, penerimaan dana, likuiditas, investasi, valuta asing, hingga trade finance.

Bank juga bekerja sama dengan fintech untuk mendigitalisasi dan mengotomatisasi proses end-to-end serta memperluas solusi modal kerja bagi nasabah.

“Kami telah memulai proyek transformasi digital dalam beberapa tahun terakhir, dan proses ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan,” kata Fong. “Inisiatif ini akan menentukan sekaligus mentransformasi bisnis trade dan supply chain finance kami dalam beberapa tahun mendatang.”

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.