Indonesian banks' strong profits hide widening lending gap
Terdapat pula jurang antara pertumbuhan pinjaman bank yang tinggi dan pertumbuhan pendapatan bunga yang rendah.
Ketahanan laba bank-bank Indonesia menutupi kesenjangan yang kian melebar dalam penyaluran kredit, menurut UOB Kay Hian.
Pertumbuhan kredit semakin banyak didorong oleh korporasi besar dan badan usaha milik negara (BUMN), sementara permintaan dari segmen ritel serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap lesu, kata analis UOBKH, Posmarito Pakpahan.
Meski pertumbuhan kredit headline mencapai 24,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) di Bank Negara Indonesia (BNI) dan 20,6% YoY di Bank Mandiri, pertumbuhan kredit UMKM dan rumah tangga di tingkat industri secara keseluruhan hanya sebesar 0,6% YoY dan 3,4% YoY, menurut UOBKH.
Pendapatan berbasis komisi (fee income) yang kuat, pengendalian biaya yang disiplin, dan tren pencadangan (provisioning) yang jinak membantu bank-bank besar membukukan laba yang tangguh pada kuartal II 2026, kata Pakpahan, berdasarkan pertemuan UOBKH dengan Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Pertemuan-pertemuan tersebut mengungkap masih lemahnya permintaan kredit di luar segmen korporasi, serta meningkatnya tekanan biaya dana.
Terdapat pula kesenjangan yang melebar antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan pendapatan bunga kredit di bank-bank besar. Sebagai contoh, pertumbuhan kredit Bank Mandiri mencapai 20,6% pada kuartal II, namun pertumbuhan pendapatan bunganya hanya 5,8%. BNI (24,5% berbanding 15,6%) dan BRI (11% berbanding 0,1%) menunjukkan pola serupa.
Bank-bank menghadapi tekanan biaya dana pada paruh kedua 2026, seiring melemahnya kualitas pendanaan, kata Pakpahan.
"Meski laba [kuartal II 2026] diperkirakan tetap tangguh, kami memperkirakan dampak dari pengetatan likuiditas dan kenaikan biaya dana akan semakin terlihat mulai [paruh kedua 2026] dan seterusnya," kata Pakpahan.