, Vietnam
463 views
Prasenjit Chakravarti (right) speaks with Tim Charlton, Editor-in-Chief of Charlton Media Group, in a fireside chat during the ABF Forum held in Bangkok, Vietnam last March 2024.

Prasenjit Chakravarti mengungkap strategi ESG Techcombank

Bank tersebut sedang mengubah infrastruktur IT untuk memproses data hijau lebih baik.

Ada banyak potensi keuntungan dalam ESG, tetapi masih banyak yang perlu dilakukan sebelum bank-bank besar di Vietnam seperti Techcombank dapat mengembangkan operasionalnya di sektor yang masih baru ini.

“Sejujurnya, ada banyak modal yang menunggu untuk dialokasikan ke ESG,” kata Prasenjit Chakravarti, Chief Strategy and Transformation Officer di Techcombank, kepada para hadirin Asian Banking & Finance Forum di Vietnam. Namun, dia juga mencatat perlunya menyelesaikan beberapa masalah terlebih dahulu.

“Kita perlu memiliki beberapa kebijakan struktural, misalnya taksonomi pembiayaan hijau, agar kita benar-benar bisa menerapkannya secara besar-besaran,” kata Chakravarti, seraya menambahkan bahwa bagi Techcombank, "ESG tidak terpisah dari strategi kami, kami memadukan ESG ke dalam strategi."

Meskipun begitu, Chakravarti tidak menutupi tantangan yang ada: Techcombank dan Vietnam baru memulai perjalanan mereka dalam ESG. “Kami bekerja sama dengan pemerintah dalam beberapa inisiatif untuk membantu mereka mendorong kebijakan yang tepat terkait refinancing, yang menurut saya akan sangat membantu dalam memajukan industri,” katanya.

ALSO READ: Banks grapple through era of disruption by being the disruptor

Membangun ke depan 

Meskipun masih banyak yang harus dilakukan untuk memperluas taksonomi dan kebijakan ESG, Techcombank sedang berupaya mempersiapkan diri menuju masa depan yang lebih hijau.

Sebagai langkah awal, bank ini memperhatikan lebih dekat orang-orang yang terlibat: nasabah, pemegang saham, dan karyawan. Techcombank mempekerjakan lebih dari 11.000 orang, dengan populasi yang sangat muda dengan rata-rata usia 30 tahun.

“Ini populasi yang sangat muda, kami memiliki 11.000 orang, dan mereka sangat antusias terhadap ESG. Jadi bagaimana kita memanfaatkan energi dan momentum itu untuk kebaikan bank sekaligus menghasilkan ide-ide bagus untuk klien kami?” kata Chakravarti, sembaru menekankan pentingnya melibatkan karyawan dalam perjalanan ESG Techcombank.

Dari sisi teknis, bank ini berinvestasi dalam waktu dan energi untuk mengubah arsitektur IT datanya agar dapat melacak dan mengelola berbagai data ESG. "Membangun kumpulan data ini, dalam banyak hal, sangat penting untuk meningkatkan cara kami membangun produk dan layanan baru untuk nasabah," tambahnya.

Mengenai sisi permintaan, Chakravarti menyatakan, "Kami melihat banyak permintaan dari investor asing dan institusi di sektor ini. Saya pikir ini hanya masalah waktu sebelum kami melakukan lebih banyak hal dengan permintaan tersebut, seiring dengan tersedianya beberapa faktor pendukung,” katanya.

ALSO READ: Empathy deficit erodes customers’ trust in banks

Apakah ESG sebuah kebutuhan?

Ada permintaan dari investor asing, namun bagaimana dengan  permintaan dalam negeri? Chakravarti menyimpulkan diskusi ini dengan mengatakan bahwa hal tersebut diserahkan kepada bank untuk menyediakan opsi bagi nasabah ritel.

"Apa yang kami temukan adalah bahwa, secara umum, jika bank menawarkan produk perbankan ritel yang selaras dengan prinsip keberlanjutan ESG mereka, jenis layanan tersebut sangat diterima oleh nasabah," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka "menemukan banyak keselarasan dalam topik ini dengan nasabah."

Chakravarti mencatat ada pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan adalah apa yang dapat dilakukan bank seperti Techcombank untuk menyediakan solusi dan produk yang tepat yang memanfaatkan minat pada ESG, serta membuat produk dan layanan ESG lebih "nyata" bagi nasabah ritel pada umumnya.

Salah satu layanan ESG yang dapat ditawarkan oleh bank termasuk fitur tambahan pada kartu kredit yang membantu pengguna melacak jejak karbon mereka.

ALSO READ: Greenwashing in banking: real concern or overblown issue?

Techcombank sedang mengembangkan produk keuangan hijau untuk nasabahnya, seperti pinjaman kendaraan listrik (EV) dan produk yang membantu nasabah ritel melacak jejak karbon mereka.

"Apa yang benar-benar ingin kami lakukan adalah memiliki serangkaian produk pinjaman, deposito, dan investasi yang terhubung dengan ini, tetapi masih dalam tahap pengembangan," kata Chakravarti. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa hingga saat ini, Techcombank lebih banyak berfokus pada sektor perbankan korporat.


 

Follow the link for more news on

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.

DBS Indonesia luncurkan layanan portofolio SGD untuk nasabah kaya

Mandiri Investasi akan mengelola dana pada instrumen obligasi, saham, dan emas.

OCBC Hong Kong bentuk kelompok pelatih eksekutif untuk karyawan

Bank ini menargetkan 100 pelatih bersertifikat di seluruh grup pada akhir 2027.

CIMB permudah proses pembiayaan mobil pertama

Program ini mencakup pajak jalan, perlindungan kehilangan total kendaraan, dan Takaful.

PvX dorong pembiayaan berbasis pendapatan untuk aplikasi konsumen

Persaingan yang dipicu AI diperkirakan mendorong kebutuhan modal pemasaran.