, Vietnam
864 views
Mr Quang Nguyen, CEO of Cake Digital Bank.

Bank digital Cake mencapai titik impas dengan memenuhi kebutuhan kecil

Bank digital asal Vietnam ini berhasil berkat pinjaman cepat dan kartu kredit dengan batas rendah.

Cake Digital Bank yang berbasis di Ho Chi Minh mencapai titik impas pada Desember 2024, bergabung dalam daftar eksklusif bank digital di Asia yang mulai mengambil pangsa pasar yang semakin besar dalam industri keuangan.

Keberhasilannya dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan keuangan kecil seperti pinjaman cepat dan kartu kredit dengan batas rendah yang sering diabaikan oleh pemain tradisional.

“Saat bank-bank tradisional mulai mendigitalkan layanan mereka, fokus utama mereka tetap pada pelanggan tradisional,” kata CEO Cake Digital Bank, Quang Nguyen kepada Asian Banking & Finance.

“Artinya, kebutuhan keuangan kecil seperti pinjaman cepat beberapa juta dong Vietnam atau kartu kredit dengan batas rendah sering tidak terpenuhi karena bukan prioritas dan biaya operasionalnya tinggi dalam model perbankan tradisional,” ujarnya melalui email sambil menambahkan bahwa pemberi pinjaman tradisional sering mengecualikan kelompok pelanggan ini karena kurangnya riwayat kredit, jaminan yang tidak mencukupi, dan prosedur yang rumit.

Pemberi pinjaman ini, bagian dari Vietnam Prosperity Joint-Stock Commercial Bank, telah menarik 5 juta nasabah sejak diluncurkan pada 2021.

Pendapatan rata-rata Cake Digital Bank mencapai US$12 per pengguna pada 2024, dan saat ini bank tersebut memegang simpanan tabungan sebesar $352 juta (VND 9 triliun). Transaksi pembayaran meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi $4,7 miliar dari $2,2 miliar pada 2023.

Membuat layanan mudah diakses oleh nasabah menjadi kunci keberhasilan lain, terutama di Vietnam di mana banyak nasabah di daerah pedesaan belum familiar dengan bank digital sepenuhnya.

Jawaban Cake adalah menyederhanakan pengalaman pengguna, membuatnya “easy as cake,” kata Nguyen. Nasabah dapat membuka rekening dalam dua menit dan mengajukan kartu kredit serta pinjaman secara online, sambil mendapatkan persetujuan bayar nanti tanpa dokumen rumit.

Nasabah juga dapat mengakses layanan keuangan Cake dari ekosistem mitra yang beragam. Cake menjadi pilihan keuangan di sektor layanan ride-hailing, hiburan, dan bisnis ritel, kata Nguyen.

Faktor lain adalah sumber daya manusia mereka. “Kami membangun tim lokal dengan pola pikir startup yang kuat, inovasi, dan budaya yang tangguh.”

Nguyen mengatakan AI juga menjadi tulang punggung penting operasional mereka, dengan lebih dari 60 model AI dikembangkan hanya pada tahun lalu.

Mereka juga satu-satunya bank digital di Vietnam yang mengembangkan large language model/LLM AI sendiri.

“Kemampuan AI ini diterapkan di seluruh bidang pemasaran, penjualan, manajemen risiko, dan layanan pelanggan, meningkatkan efisiensi sekaligus nilai bagi nasabah,” kata Nguyen. “Penghematan biaya dari operasional berbasis AI memungkinkan kami untuk reinvestasi dalam penawaran yang lebih baik dan solusi keuangan yang dipersonalisasi.”

Cake juga menggunakan AI generatif untuk menganalisis perilaku nasabah dan memberikan solusi keuangan yang personal, baik saat membuka kartu, rekening tabungan, maupun investasi.

Sistem kartu berbasis cloud buatan internal mempercepat transaksi dan mengurangi biaya, sementara proses berbasis AI meningkatkan berbagai aspek mulai dari onboarding nasabah lewat aturan electronic know-your-customer hingga persetujuan dan layanan perbankan virtual, tambah Nguyen.

Cake mengandalkan AI untuk membantu ekspansi lebih lanjut dengan tetap efisien dari sisi biaya.

“Dengan memanfaatkan otomatisasi berbasis AI, kami mengoptimalkan proses seperti dukungan pelanggan dan manajemen penagihan, mengurangi kebutuhan operasi manual sekaligus meningkatkan kecepatan dan akurasi,” kata Nguyen.

Cake juga berencana memperluas solusi perbankan embedded mereka.

“Perbankan tidak lagi terbatas pada platform tradisional; layanan keuangan kini terintegrasi secara mulus ke dalam ekosistem digital,” katanya. “Alih-alih mengunjungi bank, nasabah dapat mengakses produk keuangan langsung di dalam aplikasi dan layanan yang mereka gunakan sehari-hari.”

 

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.