BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil
Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) tengah menjajaki pemanfaatan data interaksi usaha kecil dengan pembeli, pemasok, dan perusahaan besar untuk menilai risiko kredit yang mungkin tidak terlihat jika debitur dinilai secara terpisah.
"Keputusan kredit tetap berada di tangan BNI," ujar Sigit Prihatmoko, head of corporate innovation centre di BNI, kepada Asian Banking & Finance. "Namun melalui pendekatan ekosistem, kami dapat memahami UMKM bukan hanya sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari jejaring ekonomi yang lebih besar."
BNI, bank terbesar keempat di Indonesia berdasarkan aset, sedang mengkaji cara memantau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam hubungan mereka dengan pembeli, pemasok, atau perusahaan besar dalam satu rantai pasok. Pendekatan ini dapat memberi bank informasi lebih lengkap tentang bisnis dan pola transaksi mereka.
"Ekosistem tidak menggantikan proses underwriting, tetapi memperkaya pemahaman kami tentang risiko dan peluang yang mungkin tidak terlihat jika kami hanya menilai satu entitas secara terpisah," kata Prihatmoko dalam jawaban tertulis melalui surel.
Bank komersial milik negara ini berencana menerapkan pendekatan tersebut pada nasabah payroll, proyek digital yang terkait dengan pemerintah, serta komunitas masyarakat Indonesia di luar negeri, seiring upayanya berekspansi di luar bisnis perbankan wholesale yang selama ini menjadi andalannya.
Menurut Prihatmoko, layanan payroll dapat membuka akses ke individu dan keluarga, rantai pasok dapat menghubungkan bank dengan usaha kecil, dan diaspora Indonesia dapat membuka peluang layanan keuangan lintas negara.
Bank memperkirakan nasabah akan semakin sering mengakses layanan keuangan melalui platform pihak ketiga, sehingga memperluas jangkauan pasar sekaligus melengkapi aplikasi perbankan milik BNI sendiri.
"Tujuan kami bukan membuat bank menjadi tak terlihat, melainkan membuat akses ke layanan keuangan lebih mudah dan natural bagi masyarakat," ujar Prihatmoko. "Yang seharusnya hilang dalam invisible banking adalah hambatannya, seperti langkah tambahan berupa kunjungan ke cabang atau pengisian formulir terpisah, bukan kepercayaannya."
Ia menyebutkan, kecerdasan buatan (AI) dapat berperan lebih besar dalam memantau debitur usaha kecil dibandingkan dalam memutuskan persetujuan kredit mereka.
AI memungkinkan BNI memproses lebih banyak data, mengidentifikasi pola yang sulit dideteksi secara manual, dan mendeteksi perubahan pada bisnis atau perilaku debitur lebih dini.
"AI membantu menghasilkan wawasan yang lebih baik, tetapi keputusan dan akuntabilitas tetap berada di tangan bank," kata Prihatmoko.
BNI belum menetapkan target nilai kredit yang ingin dihasilkan dari strategi usaha kecilnya. Prihatmoko mengatakan, bank lebih berfokus pada apakah pendekatan ini dapat diperluas dengan tetap mengendalikan risiko dan membantu bisnis tumbuh.