, Singapore
834 views
Choo Wan Sim, Head of UOB TMRW Digital (Photo courtesy of UOB)

Choo Wan Sim dari UOB: Bankir perempuan membutuhkan work-life balance

Mantan pramugari yang kini memimpin divisi digital bank ini juga menekankan pentingnya peran mentor.

Memastikan karyawan dapat menyeimbangkan karier dan kehidupan keluarga adalah bentuk dukungan terbaik yang dapat diberikan bank untuk mendorong kemajuan karier perempuan, menurut seorang bankir senior dari United Overseas Bank Ltd. (UOB).

“Perempuan menjalankan banyak peran — sebagai istri, ibu, anak perempuan, saudara, sahabat,” kataChoo Wan Sim, kepala UOB TMRW Digital kepada Asian Banking & Finance. “Mereka memikul tanggung jawab untuk mengerjakan semuanya sendiri dan ingin menjalankan semuanya dengan baik.”

Di bank yang berbasis di Singapura ini, terdapat berbagai pengaturan kerja seperti jam kerja fleksibel dan sistem jam kerja yang disesuaikan. Seorang karyawan bisa menikmati waktu istirahat hingga dua jam dalam satu hari kerja setiap bulan tanpa perlu mengajukan cuti, serta dua kali jam kerja Jumat yang dipersingkat, jelasnya.

“Dengan tiga anak laki-laki dan keinginan untuk tidak melewatkan momen penting mereka, fleksibilitas seperti ini memungkinkan saya untuk sejenak meninggalkan pekerjaan, mengurus anak-anak, lalu segera kembali menyelesaikan apa yang harus saya kerjakan,” kata Choo dalam wawancara video.

Ia mengakui bahwa berbagai kebijakan suportif dan kehadiran mentor perempuan telah membantunya mencapai posisi puncak di divisi perbankan mobile UOB.

Hal-hal tersebut, ditambah dengan apa yang ia sebut sebagai “kebetulan-kebetulan kecil,” telah membawanya ke jalur karier sebagai seorang bankir, kata Choo, yang dulunya adalah seorang pramugari.

“Saya ingin melihat dunia,” katanya mengenai pilihan karier pertamanya. “Saya ingin merasakan hidup. Yang tidak saya tahu, namun akhirnya saya pelajari, adalah kerendahan hati. Beberapa tahun itu justru mengajarkan saya banyak hal tentang kerendahan hati dan nilai-nilai hidup yang terus saya pegang sampai sekarang.”

Choo mengatakan bahwa seorang pemimpin perempuan membantunya beralih ke industri asuransi.

“Setelah tiga tahun, saya merasa saatnya membalas jasa orang tua atas pendidikan yang mereka berikan. Dan saat itulah, seorang pemimpin perempuan memberi saya kesempatan untuk masuk ke industri asuransi,” katanya.

Tiga tahun kemudian, mentornya pindah ke industri perbankan, dan Choo pun mengikutinya.

Sejak saat itu, ia telah bekerja di berbagai segmen industri perbankan seperti pembayaran, kartu kredit, dan pinjaman tanpa agunan. Setelah sepuluh tahun, ia melamar untuk memimpin divisi perbankan digital UOB yang sepenuhnya berbasis mobile.

“Saya berpikir, kenapa tidak mencoba saja?”

Kini ia memimpin bisnis digital UOB di Singapura dan kawasan regional, membantu memperluas jaringan layanan digital dan mengalihkan transaksi offline ke online yangt mempermudah akses perbankan bagi nasabah.

Proyek terbarunya adalah rebranding produk multi-mata uang UOB dari Mighty FX menjadi FX+. Dalam proyek ini, Choo bekerja lintas tim, mulai dari kartu kredit, kekayaan (wealth), hingga treasury untuk memperluas manfaat produk di kartu debit.

Choo yakin bahwa produk tersebut, yang menawarkan keunggulan tanpa biaya transaksi valuta asing untuk belanja di luar negeri, tanpa markup dengan kurs transparan untuk 11 mata uang, serta cashback untuk penarikan uang di luar negeri dapat bersaing dengan produk fintech sejenis.

Namun, Choo mengakui perempuan masih harus menghadapi stereotip terkait peran dan kekuatan mereka.

“Kesalahpahaman ini kadang sudah muncul sejak masa pendidikan — ‘anak laki-laki lebih unggul di matematika dan sains, anak perempuan lebih kuat di bahasa dan ilmu sosial,’” kata dia.

Menurut Choo, industri perbankan telah mengambil langkah penting untuk mengatasi stereotip ini melalui berbagai inisiatif yang beragam dan inklusif, termasuk program mentorship.

“Hal yang menggembirakan adalah kini banyak perempuan sukses yang mengambil peran kepemimpinan penting di industri [perbankan dan teknologi],” katanya. “Kesadaran dan pentingnya keberagaman gender juga terus meningkat.”

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.