, Singapore
577 views
Photo by Ben Soyka via Unsplash.

Ekosistem, data kunci bagi bank untuk mengimbangi disruptor

Bank harus menjadi pilihan utama nasabah, menurut analis.

Bank yang ingin tetap kompetitif harus berjuang untuk menjadi bank pilihan utama nasabah, menurut seorang pakar.

Isaac Tan, mitra di Boston Consulting Group (BCG), mengatakan bahwa bank harus merombak strategi mereka dengan memulai dari memenangkan hubungan utama dengan nasabah.

"Saat ini, bank semakin menjadi utilitas sebagai penyedia neraca. Bagaimana bank melampaui itu untuk memberikan nilai tambah? Melalui koneksi manusia dan posisi sebagai penasihat," kata Tan, berbicara kepada peserta Asian Banking & Finance Forum Malaysia 2024 yang diadakan di DoubleTree by Hilton Kuala Lumpur.

Ekosistem

Kunci untuk mencapai hal ini adalah dengan mengembangkan ekosistem. Namun, bagi banyak bank, membangun kemitraan ekosistem masih menjadi tantangan, kata Tan.

Keuangan yang embedded adalah salah satu jawabannya.

“Bank perlu memikirkan permainan apa yang ingin dimainkan dalam kemitraan ekosistem. Banyak pembicaraan tentang keuangan embedded. Bagaimana bank menyematkan sesuatu dalam ekosistem lain?” kata Tan.

“Bank saat ini berbicara tentang e-commerce embedded.. yang merupakan upaya bank untuk menciptakan platform e-commerce di saluran mereka sehingga nasabah dapat melakukan e-commerce dan perbankan di platform yang sama,” tambahnya.

Namun, Tan memperingatkan bahwa bank harus menemukan strategi yang tepat. Semuanya masih dalam mode friendly-model, menurut Tan, tanpa "musuh yang jelas." Ini berarti bahwa di masa depan, “teman-teman” ini juga dapat menjadi musuh bagi bank.

Di saat yang sama, pesaing di suatu bidang bisa menjadi mitra yang memungkinkan bank untuk melakukan lebih banyak.

Data

Generasi nasabah yang baru ingin berinteraksi secara online. Sekitar 7 dari 10 (70%) nasabah ingin berhubungan dengan bank mereka secara online dan menginginkan semua kebutuhan perbankan mereka dilakukan secara digital, menurut Tan.

Meski keamanan menjadi perhatian, namun nasabah bersedia berbagi data mereka dengan bank jika mereka percaya hal itu dapat memberikan nilai tambah.

“Data untuk nilai sangat penting. Bagaimana bank harus  menciptakan brand yang relevan bagi mereka? Ini tidak lagi hanya tentang kepercayaan pada bank. Ini juga tentang branding dan alasan yang bisa mereka lihat sebagai tujuan,” kata Tan.

Ekspektasi pun telah berubah: bank diharapkan mencari cara baru untuk melakukan berbagai hal, baik itu perbankan terbuka, pencegahan kejahatan finansial, perlindungan konsumen, atau privasi data, tambah Tan.

 

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.