, Singapore
401 views
Photo from SMILE API

Fintech Smile API mempercepat proses persetujuan pinjaman untuk inklusi keuangan

CEO Smile API, Jerome Eger, berkomitmen tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga akses yang aman ke data pekerjaan.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan menurunnya keamanan finansial di Asia, semakin banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu, mayoritas populasi Asia memilih untuk menggunakan kredit dan pinjaman. Namun, akses ke alat keuangan ini pun masih menjadi tantangan.

Selain itu, pengajuan pinjaman di sebagian besar negara Asia adalah proses yang rumit dan memerlukan banyak tenaga kerja serta tahapan yang panjang.

Menyadari kebutuhan akan uang tunai cepat dan tantangan yang ditimbulkan oleh waktu pemrosesan yang panjang, startup fintech asal Singapura, Smile API, memperkenalkan platform yang mempercepat proses verifikasi pekerjaan menggunakan AI.

“Di banyak bagian Asia, kecuali Singapura, oirang  tidak memiliki akses yang baik ke kartu kredit. Jadi, banyak orang sebenarnya akan pergi ke perusahaan pemberi pinjaman jika mereka membutuhkan uang tunai,” kata Jerome Eger, CEO Smile API, dalam wawancara dengan Singapore Business Review.

“Tetapi masalah muncul ketika nasabah tidak memiliki skor kredit. Lembaga keuangan perlu mengetahui apakah mereka dapat mempercayai mereka untuk membayar kembali uang tersebut. Mereka perlu memastikan bahwa nasabah itu  memiliki pekerjaan untuk menjamin pembayaran kembali, dan Smile membantu melakukan itu,” tambah Eger.

Di Filipina, misalnya, individu yang mencari pinjaman harus memberikan bukti pekerjaan dan penghasilan, yang secara tradisional dilakukan dengan mencantumkan Certificate of Employment (COE) dan slip gaji.

“Jika nasabah membutuhkan uang tunai dengan cepat, mereka harus pergi ke pemberi kerja lalu mendapatkan surat yang ditandatangani, dan juga disahkan, terkadang oleh otoritas pajak atau oleh bank. Mereka juga perlu memberikan beberapa slip gaji dan kemudian mengunggahnya. Namun, pemberi pinjaman tidak tahu apakah COE itu asli atau palsu,” jelas Eger.

Cara lain adalah dengan melalui call centre untuk memverifikasi pekerjaan pemohon, yang dijelaskan oleh Eger sebagai “memakan waktu” dan “sangat mahal.”

“Itu menciptakan banyak hambatan, dan Smile membantu memverifikasi pekerjaan dan penghasilan dalam hitungan detik untuk 90% populasi di Filipina,” katanya.

ALSO READ: Why tech is not the focal point of banks’ digital transformations

Kenyamanan yang aman

Teknologi Smile API memberikan kemudahan dan transparansi bagi lembaga keuangan dan pengguna akhir. Smile mengamankan data pekerjaan yang dapat dipilih oleh pengguna akhir untuk dibagikan dengan bank.

“Nasabah kami adalah layanan keuangan, dan begitu mereka menggunakan layanan Smile, kami memiliki kode visual yang dapat kami integrasikan ke dalam aplikasi mereka. Jadi bayangkan aplikasi perbankan; begitu bank menjadi pelanggan kami, nasabah akan memiliki kemungkinan untuk menghubungkan akun penggajian dalam aplikasi perbankan tanpa harus meninggalkan aplikasi tersebut,” jelas Eger.

“Dan ada kotak persetujuan. Nasabah harus menyetujui untuk berbagi informasi dengan bank, dan Smile membantu memfasilitasi ini. Jadi, mereka hanya perlu memberikan persetujuan dan kemudian kami akan bekerja,” tambahnya.

Dengan Smile, pengguna akhir memiliki cara untuk terhubung dengan berbagai platform keuangan sambil tetap memiliki kendali penuh atas data yang mereka bagikan. Misalnya, pengguna akhir dapat memutuskan berapa lama suatu platform dapat menyimpan data mereka. Selain itu, Smile mengharuskan platform tersebut untuk menghapus data pengguna.

“Anggap saja sebagai aplikasi kecil di dalam aplikasi bank nasabag yang terintegrasi dengan mulus,” katanya.

Saat ini, Smile melayani pasar di Singapura dan Filipina, dengan fokus khusus pada Filipina, di mana permintaan untuk produk ini paling tinggi.

ALSO READ: Why banks need fintechs to buoy loan growth

Relevansi pasar

Seperti banyak startup sebelum dan selama pandemi, Smile awalnya menawarkan layanan yang berbeda. Smile awalnya memulai dengan konsep memberikan layanan yang memungkinkan pekerja mengakses gaji yang sudah mereka peroleh sebelum hari gajian yang dijadwalkan.

Namun, ketika pandemi melanda saat Smile sedang membangun infrastruktur layanannya, mereka terpaksa beralih meskipun sudah membentuk tim. Beruntung, beberapa perusahaan pemberi pinjaman tertarik menggunakan data saat itu.

“Kami berhasil bermitra dengan perusahaan-perusahaan ini sehingga mereka dapat memanfaatkan data tersebut. Jadi kami menjadi API data pekerjaan, sebuah perusahaan yang menyediakan data pekerjaan kepada layanan keuangan berlisensi,” kata Eger.

Apa yang awalnya hanya rencana cadangan, berubah menjadi kisah sukses. Smile berhasil membuktikan relevansi pasarnya dan terus menunjukkan kepercayaan dalam mendapatkan pendanaan, meskipun menghadapi tantangan waktu.

“Pendanaan selalu menjadi tantangan bukan karena sulit, tetapi karena memakan waktu. Artinya, jika sehari ada 24 jam, itu tetap akan memakan waktu nasabah meskipun kami ingin membuat mereka tersenyum sepanjang waktu, tapi banyak waktu dihabiskan untuk fundraising,” katanya.

“Selain itu, tidak sulit bagi kami untuk mendapatkan dana. Kami berhasil menggalang dana dalam beberapa putaran terakhir. Investor kami termasuk beberapa investor malaikat. Di antara investor institusi adalah Plug & Play, Afore Capital, dan DEG,” kata Eger kepada Singapore Business Review.

Dengan dana tersebut, Smile menargetkan pasar yang membutuhkan inklusi keuangan dan menghadapi suku bunga tinggi serta banyak gesekan selama proses pengajuan untuk berbagai layanan digital.

ALSO READ: How banks should rethink pricing

Membuat nasabah tersenyum

Untuk memberikan kebahagiaan bagi nasabah, Smile menargetkan menjadi sumber terpercaya untuk data pekerjaan di seluruh Asia.

“Kami berinvestasi besar dalam membangun kepercayaan untuk platform kami. Kami secara rutin melakukan uji penetrasi untuk keamanan data sistem kami. Kami terdaftar di Komisi Privasi Nasional. Seluruh tim manajemen Smile, termasuk saya, adalah petugas perlindungan data bersertifikat di bawah Undang-Undang Perlindungan Data Filipina,” kata Eger.

Untuk menjamin keamanan data yang tak tertandingi, seluruh infrastruktur sistem Smile dilindungi oleh salah satu dari 100 chief information security officers terbaik di dunia.

“Smile adalah entitas yang sepenuhnya diaudit dan bersertifikat di bawah standar supplier bank BSP (bank sentral Filipina). Dalam menangani informasi sensitif tentang banyak individu, menjaga kepercayaan adalah yang terpenting,” tegas CEO Smile. "Kami bekerja keras setiap hari untuk memastikan bahwa kami adalah sumber tepercaya untuk data pekerjaan."

Dengan momentum dan dedikasi ini, Eger membayangkan perusahaan akan sepenuhnya menghilangkan dan mengurangi gesekan terkait data dalamseluruh  proses digital di masa depan.

“Bayangkan berapa banyak orang yang dipekerjakan setiap hari, dan perlu menunjukkan kepada pemberi kerja baru mereka riwayat pekerjaan sebelumnya. Pikirkan apa yang telah dicapai Singapura dengan SingPass, dan bayangkan jika bisa memiliki SingPass untuk seluruh dunia,” katanya.

 

Follow the link for more news on

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.