, Southeast Asia
843 views

HSBC: Aliansi bank-fintech merupakan win-win

Pemberi pinjaman dapat belajar dari teknologi disruptif sambil membantu mereka mematuhi regulasi.

Bank-bank tradisional harus bekerja sama dengan startup fintech untuk mendorong inovasi, menurut HSBC. Hal ini disebabkan seiring sektor ini yang terus terganggu oleh gelombang teknologi baru mencakup pembayaran digital, robo-advisor, blockchain, dan lainnya.

Diperkirakan bank dan grup investasi menghabiskan $652 miliar tahun lalu untuk mengejar inovasi teknologi, menurut Gartner.

Namun, sebagian besar langkah “inovatif” ini lebih bersifat inkremental daripada disruptif, kata Shayan Hazir, Chief Digital Officer untuk ASEAN di HSBC Singapura, dalam sebuah wawancara dengan Asian Banking & Finance.

“Layanan keuangan belum mengalami momen vanguard mereka atau momen perubahan besar itu,” katanya. “Kami melihat lebih sedikit hal yang radikal dan disruptif, dan sebagian alasannya adalah kebutuhan untuk mempertahankan sistem keuangan yang murni.”

Dia mengatakan teknologi baru memberi ruang bagi pemberi pinjaman tradisional dan disruptor untuk saling berdampingan.

“Jika memikirkan tentang perbankan terbuka,  keuangan terintegrasi, perbankan berbasis platform, semua model ini tidak benar-benar ada bahkan dari sepuluh tahun yang lalu,” kata Hazir. “Apa yang diciptakan oleh berbagai model bisnis untuk layanan keuangan adalah ruang… demi kepentingan konsumen.”

Hazir, yang juga dikenal sebagai “chief collaboration officer” di bank nomor satu di Eropa, mengakui adanya persaingan antara bank-bank tradisional dan perusahaan fintech. “Jika bank tidak berada dalam persaingan yang sehat, merekqa mungkin berada di industri yang salah,” katanya.

Namun, baik bank dan fintech siap saling membantu, kata Hazir, mencatat bahwa bank dapat belajar dari pola pikir disruptif perusahaan fintech, sambil membantu mereka mematuhi standar industri.

Dia mengatakan bahwa keterampilan bankir tradisional telah diasah seiring berjalannya waktu dalam hal tata kelola dan regulasi untuk memastikan stabilitas keuangan. “Kami mempertahankan kesucian sistem keuangan, sehingga itu akan selalu menjadi prioritas dibandingkan dengan area di mana kami merasa batasan tersebut tidak cukup kuat,” tambahnya.

Ini bukan berarti perusahaan fintech tidak memiliki perlindungan yang kuat, kata Hazir. “Namun, sangat penting bagi perusahaan fintech untuk dapat memanfaatkan dukungan konsultatif dalam aspek-aspek ini.”

Sementara itu, bank harus menyematkan inovasi lebih dalam ke dalam infrastruktur mereka.

"Skin in the game"

“Ide selalu menjadi pemenang dalam startup dan fintech, dan sangat penting bahwa industri harus dipimpin oleh ide,” kata Hazir. “Kemudian, kita bisa melalui proses penyaringan ide tersebut, memastikan bahwa ide-ide itu aman, dan berkembang ke arah yang benar.”

Masalahnya bukan terletak pada menemukan ide-ide, tetapi bagaimana menghubungkannya dengan bagian lain dari organisasi, dia menjelaskan.

Hazir mengatakan sebuah bank sebaiknya mengalokasikan 20% sumber dayanya untuk hal-hal yang radikal dan disruptif. “Bank harus memikirkan teknologi yang sedang berkembang… [dan] paradigma baru dari klien.”

Namun, industri harus terlebih dahulu memahami etika dari teknologi tertentu. Misalnya AI generatif dan memastikan nasabah terlindungi sebelum meluncurkan solusi.

“Solusi generatif bisa rentan terhadap halusinasi, atau nantinya bisa ada tantangan hak cipta terkait bagaimana model large language dibangun,” katanya. “Kami ingin memastikan bahwa kami memahami risiko secara mendetail,” tambahnya.

Bank tradisional dan perusahaan fintech bisa melakukan ini dalam lingkungan yang aman untuk bereksperimen, kata Hazir, dengan mengutip upaya Otoritas Moneter Singapura untuk meningkatkan likuiditas pasar keuangan melalui tokenisasi aset.

HSBC berpartisipasi dalam inisiatif ini dan telah bermitra dengan fintech Marketnode sejak 2020 untuk bersama-sama mengembangkan infrastruktur pasar digital yang mencakup kredit, dana, dan produk terstruktur. Bank tersebut sejak itu berinvestasi dalam startup berbasis di Singapura.

“Apa yang telah kami lakukan adalah menciptakan peluang. Peluang bagi kami untuk tidak hanya memiliki kemampuan sendiri dalam mengembangkan produk dan layanan tetapi juga bagi nasabah. Sebab, kami memiliki akses langsung ke fintech yang sangat progresif di bidang ini,” kata Hazir. “Jadi, ini adalah contoh di mana bank mungkin belum memiliki produk langsung, tetapi sudah melacak tren.”

Dengan memiliki “skin in the game,” pemberi pinjaman seperti HSBC dapat menciptakan jenis produk baru daripada hanya meningkatkan produk yang sudah ada.

“Kami kemudian mengembangkan kemampuan baru yang akan memulai… perubahan dalam cara kami menciptakan produk dan layanan di bank, berbeda dengan produk digital tradisional yang kami miliki,” tambahnya.

 

Follow the link for more news on

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.