, Singapore
4120 views

Mayda Lim dari OCBC dalam membangun pipeline talenta di bidang teknologi dan perbankan

Lim menggabungkan kebutuhan untuk mendukung bankir perempuan dengan kekurangan talenta dalam industri tersebut.

Pada 2021, Mayda Lim melangkah ke tahap berikutnya dalam karir perbankan dan ITnya: setelah empat tahun bekerja di China untuk bank Australia terkemuka, Dia kembali ke Singapura untuk memimpin pengembangan tim teknik OCBC di seluruh Asia Pasifik.

"Ketika saya pertama kali bergabung dengan bank, tugas pertama saya adalah untuk mengembangkan tim pengembangan perangkat lunak internal kami," kata Lim, yang merupakan Head of Software Development Centre di Group Operations & Technology OCBC kepada Asian Banking & Finance dalam wawancara eksklusif. "Kami ingin bertransformasi dari membeli produk menjadi membangun produk sendiri."

Lebih dari dua tahun kemudian, Mayda telah berhasil meningkatkan skala tim teknik OCBC, meningkatkan jumlah ahli dalam tim hingga empat kali lipat dengan merekrut lebih dari 600 insinyur perangkat lunak.

Melihat masa kerjanya sebelum bergabung dengan OCBC, mudah untuk melihat mengapa Lim dipilih untuk menyelesaikan tugas ini: sebelumnya dia pernah menjabat sebagai head of technology untuk kampus teknologi ANZ di Cina, di mana dia mengarahkan pusat pengembangan perangkat lunak luar negeri dengan staf yang terdiri dari 300 orang. Dalam masa singkatnya dengan ANZ Singapura sebelum ini, ia memimpin pengembangan 8 prototipe dan meluncurkan perusahaan start-up yang berfokus pada blockchain dalam keuangan perdagangan.

Sebelum menjadi seorang bankir, Lim selalu ada dalam bidang teknologi dan rekayasa, dia memulai karirnya bekerja untuk sebuah perusahaan logistik dan kemudian dengan Thomson Reuters.

"Saya tidak pernah memulai karier saya dengan berpikir untuk masuk ke industri perbankan," kenang Lim dari karirnya selama lebih dari dua dekade. "Tapi dari awal, saya tahu bahwa saya ingin masuk ke dunia teknologi, atau apapun yang terkait dengannya. Saya melihat teknologi seperti departemen inti dari banyak sektor. Ini peran vertikal. Anda dapat selaras dengan beragam industri."

Di masa depan, Lim berbagi semangatnya dalam perkembangan seputar komputasi kuantum, yang menurutnya merupakan masa depan  baik dalam bidang teknologi maupun perbankan.

"Dari perspektif bank kami [OCBC], kami telah menentukan bahwa kami perlu melatih orang-orang kami setidaknya memiliki kesadaran tentang komputasi kuantum. Ini sama dengan beberapa tahun lalu dengan blockchain," kata Lim, mengatakan bahwa OCBC "selalu menjadi yang pertama" untuk menyesuaikan diri dengan mengeksplorasi teknologi baru, dan oleh karena itu sekarang sedang mengeksplorasi kurikulum pelatihan untuk komputasi kuantum.

"Untuk siap menghadapi masa depan, pelatihan tidak boleh terbatas pada karyawan teknologi. Sebaliknya, harus terbuka untuk seluruh karyawan  bank, seperti Program Data atau program keamanan siber," tambahnya.

Selain teknologi, ada satu topik lain yang dekat di hati Lim: memberdayakan talenta-talenta yang sedang berkembang, dan tentu saja perempuan untuk berhasil dalam industri perbankan dan IT, sebuah sentimen yang dianut oleh OCBC.

ALSO READ: OCBC gives S$9m support to 14,000 junior employees

Kesenjangan talenta

Seorang pemimpin perempuan yang dipilih untuk memimpin tim teknologi bank mungkin masih menimbulkan beberapa kejutan di Asia, di mana hanya 1 dari 4 peran manajemen senior dalam bisnis diisi oleh perempuan, meskipun jumlahnya jauh lebih tinggi di Singapura. Data dari Grant Thornton Singapura menemukan bahwa 39% atau lebih dari 1 dari 3 posisi manajemen senior di Singapura diduduki oleh seorang perempuan. Mengenai perempuan di bidang teknologi, setidaknya di Singapura kesenjangan tersebut semakin mengecil, dengan 4 dari setiap 10 mahasiswa teknologi adalah perempuan.

Namun bagi Lim dan bagi OCBC, bank besar pertama di Asia Tenggara yang dipimpin oleh seorang perempuan, masalah yang lebih besar terletak pada kurangnya talenta dalam pipeline dan persaingan yang sangat besar di Singapura untuk jumlah pekerja terbatas.

Lim mencatat bahwa kurangnya representasi perempuan baik dalam industri perbankan maupun industri teknologi tidak selalu disebabkan oleh bias sadar terhadap perekrutan perempuan, tetapi lebih sebagai hasil dari kurangnya bakat secara keseluruhan dalam pipeline talenta.

"Jika kita harus melacak kembali, itu kembali ke situasi saat kita berada di sekolah. Berapa banyak dari anak perempuan kita yang memilih untuk belajar mata pelajaran STEM? Jika pasokan hulu sedikit, maka industri hilir akan terpengaruh, termasuk keuangan," katanya.

Sebagai contoh, dalam salah satu inisiatif magang dan bakat OCBC, Lim berbagi bahwa terkadang sulit untuk mempertahankan rasio 50% antara bakat pria dan perempuan karena tidak cukup banyak perempuan dalam kursus tersebut, sebuah contoh dari apa yang dia sebut "bias tak sadar".

Situasi ini semakin diperparah oleh persaingan sengit di antara perusahaan untuk mendapatkan talenta yang tepat. Di Singapura, bank seperti OCBC harus bersaing dengan raksasa teknologi seperti Google, TikTok, dan Facebook, di antara lain, untuk merekrut talenta yang tepat.

ALSO READ: OCBC expands money lock feature to time deposits

Divisi data OCBC merupakan salah satu contoh di mana kesenjangan antara pria dan perempuan kecil: setidaknya 40% karyawan bank di divisi data, dan yang menjalankan analisis data, adalah perempuan. Hal ini merupakan hasil dari harapan terhadap perempuanuntuk belajar statistik, bukan rekayasa di masa lalu. Departemen statistik ini kemudian berubah seiring waktu, dan sekarang telah menjadi departemen data.

Program pemberdayaan

Untuk mengatasi masalah ini baik talenta maupun perempuan dalam kepemimpinan, OCBC telah mengadopsi beberapa program mentoring dan langkah-langkah untuk membangun pipeline talenta masa depan mereka.

"Di bank kami, kami melihat bahwa kami memiliki populasi besar perempuan di manajemen tingkat menengah. Dan agar mereka dapat naik ke level berikutnya, kami memiliki program yang kami sebut MentorMe. Program MentorMe membantu mengangkat  junior peremouan atau menengah ke peran kepemimpinan," kata Lim.

Program ini melibatkan pemimpin di bank dalam membimbing sekelompok kandidat, tidak memedulikan jenis kelamin mereka, dan berfungsi sebagai pelatihan kepemimpinan.

ALSO READ: How OCBC’s blockchain expertise is powering Singapore’s digital currency ambitions

Lim juga merintis program magang selama 1 tahun di industri perbankan Singapura yang turut membangun pipeline talenta muda. Proyek ini melibatkan memberikan pengalaman kerja kepada mahasiswa Politeknik di luar pengalaman magang tradisional.

Tiga tahun setelahnya, program ini,yang dimulai dengan lebih dari 20 magang untuk magang satu tahun sekarang mengonboard hampir 50 orang per tahun. Pada batch berikutnya, OCBC bertarget untuk mengambil 80 hingga 100 pemagang.

Follow the link s for more news on

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.