, Singapore
2937 views
Photo from Freepik

Pengawasan fintech akan diperketat usai kasus Chocolate Finance

Bank sentral mungkin akan memberlakukan persyaratan cadangan untuk memenuhi permintaan penarikan.

Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) kemungkinan harus memberlakukan persyaratan likuiditas yang lebih ketat bagi perusahaan fintech setelah Chocolate Finance mengalami kesulitan keuangan akibat lonjakan penarikan dana, menurut para analis.

“Meski regulasi yang ada saat ini sudah kuat, otoritas kemungkinan akan menyempurnakan pedoman terkait persyaratan likuiditas minimum agar perusahaan fintech memegang cadangan yang cukup untuk memenuhi permintaan penarikan,” kata Li Yang, dosen senior di School of Business, Singapore University of Social Sciences kepada Singapore Business Review.

Regulator mungkin akan mewajibkan perusahaan fintech untuk menyimpan sebagian aset mereka dalam bentuk yang sangat likuid, seperti kas atau aset setara kas dengan jatuh tempo pendek, katanya, mengutip rancangan standar teknis regulasi dari European Banking Authority (EBA) sebagai model acuan.

“EBA telah mengusulkan agar persentase tertentu dari aset cadangan memiliki jatuh tempo tidak lebih dari satu hingga lima hari kerja guna memastikan likuiditas yang memadai,” katanya melalui email.

Berbeda dengan bank tradisional, perusahaan fintech tidak tunduk pada aturan ketat, termasuk persyaratan cadangan yang mewajibkan mereka menyimpan sejumlah dana tunai. Simpanan di fintech seperti Chocolate Finance juga tidak dijamin oleh Singapore Deposit Insurance Corp. Ini karena mereka bukan bank.

Li mengatakan bahwa regulator dapat mewajibkan perusahaan fintech untuk menempatkan setidaknya 20% dari aset mereka dalam investasi yang jatuh tempo dalam lima hari kerja guna meningkatkan likuiditas. Ambang batas tersebut bersifat “ilustratif” dan perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing perusahaan.

Henry Tan, Group CEO dan Chief Innovation Officer di firma akuntansi CLA Global TS Holdings Pte. Ltd., mengatakan bahwa persyaratan likuiditas yang lebih ketat kemungkinan besar akan diberlakukan terhadap perusahaan manajemen dana yang menjual produk kompleks atau berimbal hasil tinggi.

Pada Maret, perusahaan manajemen dana Chocolate Finance menangguhkan fungsi penarikan instan mereka, dengan alasan adanya permintaan yang sangat tinggi, dan mengumumkan bahwa penarikan kini akan diproses dalam tiga hingga sepuluh hari kerja.

READ MORE: Chocolate Finance completes March redemptions processing

Langkah tersebut diambil setelah para influencer dan blogger keuangan menyuarakan kekhawatiran atas keputusan perusahaan untuk berhenti mendukung pembayaran tagihan AXS di tengah lonjakan penggunaan yang didorong oleh sistem imbalan, yang membuatnya menjadi tidak berkelanjutan.

Tan menggambarkan insiden Chocolate Finance sebagai konsekuensi dari kurangnya pengawasan dan pengamatan terhadap “influencer keuangan.”

“Meskipun Chocolate Finance memiliki lisensi dari MAS sebagai perusahaan manajemen dana, perusahaan ini bukan bank dan karena itu tidak tunduk pada persyaratan kecukupan modal dan perlindungan simpanan yang sama,” katanya melalui email.

“Masyarakat umum mungkin tidak sepenuhnya memahami perbedaan ini, terutama ketika produk investasi dipromosikan oleh influencer keuangan yang tidak memiliki keahlian finansial yang memadai,” tambahnya.

Tan menyarankan agar perusahaan fintech mencegah kesalahpahaman dengan bekerja sama dengan pihak yang terpercaya atau memberikan edukasi langsung kepada pengguna, sementara Li menekankan perlunya komunikasi yang jelas selama krisis, termasuk memiliki rencana krisis, dukungan khusus, dan pembaruan informasi yang tepat waktu kepada pengguna.

“Insiden Chocolate Finance menjadi pengingat akan pentingnya likuiditas dan kesiapan operasional,” kata Li. Ia menambahkan bahwa regulator kemungkinan akan menyempurnakan aturan transparansi, termasuk terkait ketersediaan dana tunai.

Tan memperkirakan akan ada panduan yang lebih jelas mengenai jenis produk yang boleh ditawarkan oleh manajer dana berlisensi dan bagaimana mereka menyusun sistem imbalan.

 

Indonesian banks' strong profits hide widening lending gap

Terdapat pula jurang antara pertumbuhan pinjaman bank yang tinggi dan pertumbuhan pendapatan bunga yang rendah.

BTN perluas bisnis melampaui KPR ke ranah perbankan ritel

Wealth management menjadi bagian kunci dari transformasi ini.

Maybank Indonesia beralih ke strategi kredit yang lebih selektif

Bank yang tercatat di bursa ini ingin memastikan pertumbuhan tetap disiplin dan tangguh.

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.