, Indonesia
1249 views
Left to right: LinkaAja Chief Commercial Officer, M. Rendy Nugraha, Dana Chief Technology Officer, Norman Sasono and Chief Editor Asian Banking and Finance, Tim Charlton

Permintaan untuk pembayaran digital semakin meningkat di Indonesia

Dua pemimpin layanan keuangan digital menekankan pentingnya kolaborasi daripada persaingan.

Mengikuti jejak perusahaan layanan keuangan digital berbasis di Indonesia, para peserta Asian Banking & Finance Forum 2024 baru-baru ini menyadari permintaan yang semakin meningkat untuk pembayaran digital di negara ini dan perlunya penyempurnaan layanan tersebut.

Berbicara di forum yang diadakan pada 14 Mei di Shangri-La Jakarta, Chief Technology Officer Dana, Norman Sasono, dan Chief Commercial Officer LinkAja, M. Rendy Nugraha, berbagi wawasan tentang bagaimana perusahaan mereka masing-masing beradaptasi untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh di sektor ini.

"Hal paling penting dalam menyesuaikan diri dengan permintaan nasabah adalah mendapatkan masukan mereka," kata Sasono, dengan menyoroti upaya berkelanjutan Dana untuk tetap responsif terhadap kebutuhan nasabah melalui proses iteratif membangun, mengukur, dan menyempurnakan layanan mereka.

Dia mengatakan Dana menggunakan berbagai metode seperti data penggunaan aplikasi secara real-time, diskusi kelompok terarah, survei, dan feedbacj dari media sosial untuk memandu proses pengembangan.

Dana juga menekankan pentingnya mendorong inovasi melalui strategi internal unik yang mirip dengan konsep "startup dalam startup."

Pendekatan ini, kata Sasono, memungkinkan tim kecil untuk bereksperimen dengan ide-ide baru secara cepat. "Jika gagal, ya sudah. Jika berhasil, maka kami akan benar-benar menyempurnakan fitur tersebut," ujarnya, sambil menambahkan bahwa perusahaannya bersedia mengambil risiko yang terukur.

Dari sisi LinkAja, Nugraha menjelaskan strategi multifaset yang melampaui sektor ritel ke layanan B2C dan B2B.

"Kami mengumpulkan banyak masukan dari aplikasi, media sosial, dan klien kami," kata Nugraha. LinkAja memanfaatkan kemitraan dengan perusahaan untuk mendapatkan wawasan secara tidak langsung dari pengguna akhir, memastikan mereka dapat memenuhi beragam kebutuhan dalam ekosistem.

Mirip dengan Dana, LinkAja juga terlibat dalam proyek eksperimental, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Proyek-proyek ini dirancang agar gesit dan dievaluasi berdasarkan tujuan dan metrik tertentu.

"Kami ingin membuat ini secepat mungkin, tetapi juga dengan metrik yang sangat terukur," katanya, menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam upaya inovasi mereka.

Fitur inovatif dan rencana masa depan

Ketika ditanya tentang fitur baru yang akan diperkenalkan, Sasono menyebutkan bahwa Dana kini fokus pada pengembangan fungsi inti seperti transfer uang dan layanan pembayaran.

Dana juga mulai merambah ke layanan keuangan lainnya seperti pinjaman, investasi, dan asuransi. “Kami benar-benar ingin menjadi bagian dari gaya hidup keuangan harian, bukan sekadar pembayaran,” katanya.

Dia menyoroti pengenalan pembayaran lintas negara sebagai salah satu pencapaian besar Dana. “Sebelumnya, kami ada di Thailand. Sekarang, kami akan hadir di Malaysia dan Singapura, dan akhir tahun ini di Jepang,” ungkap Sasono, menekankan upaya mereka untuk memfasilitasi transaksi internasional yang mulus bagi para pengguna.

Sementara itu, LinkAja sedang mengembangkan ekosistem komprehensifnya, khususnya dalam layanan transportasi dan bahan bakar yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “Kami adalah salah satu dari sedikit pemain yang memiliki ekosistem yang sangat lengkap terkait dengan transportasi,” kata Nugraha.

Dia juga menyatakan bahwa LinkAja sedang meningkatkan kemampuannya dalam pembayaran rantai pasokan dan transaksi keuangan korporat lainnya, dengan tujuan untuk melayani lebih banyak kebutuhan bisnis.

Tetap relevan

Baik Sasono maupun Nugraha menekankan pentingnya kolaborasi dibandingkan persaingan di pasar pembayaran digital yang semakin padat.

“Kami ingin berkolaborasi daripada saling bersaing untuk membantu bangsa mencapai inklusi keuangan,” katar Nugraha di forum Jakarta.

Sasono sependapat dengan pernyataan tersebut, menekankan komitmen Dana untuk menjadi platform terbuka yang terintegrasi dengan berbagai pedagang dan institusi keuangan.

Menanggapi kekhawatiran tentang penyalahgunaan saluran pembayaran digital, kedua eksekutif tersebut menyoroti langkah-langkah keamanan yang ketat. “Kami secara rutin mendapatkan sertifikasi terkait keamanan sistem kami,” kata Nugraha.

Sasono menambahkan bahwa Dana bekerja sama secara erat dengan Bank Indonesia untuk memastikan kepatuhan dan menangani setiap kasus penyalahgunaan.

Menjangkau wilayah terpencil

Dalam hal memperluas layanan pembayaran digital ke wilayah yang kurang terlayani, kedua perusahaan memiliki pendekatan yang berbeda namun saling melengkapi.

“Pengguna Dana sebenarnya lebih dari 60% berada di kota Tier 3 dan Tier 4,” kata Sasono, menunjukkan fokus mereka untuk menjangkau wilayah di luar pusat-pusat kota besar.

Nugraha, di sisi lain, menyoroti strategi LinkAja yang memanfaatkan jaringan luasnya serta kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan inklusi keuangan di daerah pedesaan.

Diskusi di Asian Banking & Finance 2024 menekankan upaya dinamis dan kolaboratif Dana dan LinkAja dalam memenuhi permintaan yang terus berkembang untuk pembayaran digital di Indonesia.

Melalui inovasi berkelanjutan, kemitraan strategis, serta komitmen terhadap keamanan dan inklusi, kedua perusahaan ini siap memainkan peran penting dalam membentuk masa depan keuangan digital di kawasan ini.

 

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.