122 views
Photo from Pixabay.

Bank diminta berhenti jadikan Gen Z sekadar gimmick kartu kredit

Skema reward yang rumit dan syarat belanja dapat mengikis manfaat kartu.

Bank sebaiknya merancang kartu kredit yang menyesuaikan diri dengan perubahan kebiasaan belanja nasabah, bukan menyasar generasi muda dengan promo yang bisa kehilangan daya tarik seiring bertambahnya usia pengguna, menurut platform perbandingan keuangan SingSaver Pte. Ltd.

“Sebaiknya ada kartu yang dalam bentuk tertentu lebih modular dan menyesuaikan diri dengan pola belanja pribadi,” ujar Ayush Goyal, Managing Director SingSaver, kepada Asian Banking & Finance.

Goyal menyebut kartu kredit yang dipasarkan khusus untuk Generasi Z sebagai gimmick pemasaran, bukan kategori produk yang berbeda.

Menurutnya, bank sebaiknya menawarkan kartu yang tetap bermanfaat sepanjang hidup nasabah, dengan reward yang menyesuaikan secara otomatis seiring perubahan kebiasaan belanja mereka.

Skema reward yang rumit, syarat belanja, dan biaya tersembunyi dapat mengurangi nilai tingkat cashback yang tampak menarik, ujarnya.

“Sebagian bank punya kartu dengan tarif utama yang sangat menarik, tetapi begitu kita telusuri, ternyata ada banyak batasan dan syarat yang harus dipantau setiap hari,” kata Goyal melalui Zoom.

Nasabah sering kesulitan melacak syarat belanja minimum, jenis transaksi yang memenuhi syarat, batas reward, dan tanggal kedaluwarsa, apa pun usia mereka.

Goyal mengatakan bank sebaiknya menghitung reward secara otomatis saat nasabah bertransaksi, bukan meminta mereka memantau transaksi mana yang mendapat tarif lebih tinggi.

Pemegang kartu juga seharusnya bisa mengakses manfaat yang sesuai kebutuhan mereka yang berubah tanpa harus mengajukan kartu baru atau membuka rekening baru, ujarnya.

Populasi Singapura yang menua membuat produk kartu kredit yang lebih sederhana semakin penting.

Penduduk berusia di atas 65 tahun mencakup 19,5% dari 6,21 juta penduduk Singapura pada Juni 2026, menurut Department of Statistics.

Bank perlu mempertimbangkan kemampuan nasabah membayar dan membuat manfaat kartu mudah dipahami seiring perubahan kebutuhan finansial mereka, kata Goyal.

Bank diminta berhenti jadikan Gen Z sekadar gimmick kartu kredit

Skema reward yang rumit dan syarat belanja dapat mengikis manfaat kartu.

Singapura buka pintu bagi stablecoin asing dengan aturan lebih ketat

Bank mungkin perlu mendirikan perusahaan terpisah untuk menerbitkan stablecoin dalam kerangka yang diusulkan.

Bank tinjau ulang kemitraan lintas negara seiring pembayaran beralih ke digital

Bank of America menilai standar bersama dan likuiditas 24 jam menjadi hambatan utama.

India tarik minat bank asing, ekspansi di China masih mahal

Mendirikan unit usaha di China butuh modal US$149 juta, sedangkan di India butuh US$53 juta.

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.