336 views
Will Goodman via Unsplash.

India tarik minat bank asing, ekspansi di China masih mahal

Mendirikan unit usaha di China butuh modal US$149 juta, sedangkan di India butuh US$53 juta.

Bank asing kini lebih mudah berekspansi di India lewat akuisisi dan kemitraan, sementara tingginya persyaratan modal dan persaingan ketat masih membatasi pertumbuhan mereka di China, menurut para analis.

“India makin mudah dijadikan basis perencanaan, terutama bagi bank yang bersedia menanamkan modal lokal atau membeli bagian dari platform India,” ujar Saumitra Sehgan, Partner di Roland Berger, kepada Asian Banking & Finance dalam jawaban tertulis melalui email.

India menarik sejumlah investasi asing besar pada 2025, termasuk pembelian 20% saham Yes Bank senilai US$1,6 miliar oleh Sumitomo Mitsui Banking Corp.

Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc. juga sepakat membayar US$4,3 miliar untuk 20% saham Shriram Finance Ltd., lembaga pembiayaan nonbank. Emirates NBD mengumumkan akuisisi 60% saham RBL Bank senilai US$2,75 miliar, dan transaksinya rampung pada Juni.

Menurut Sehgan, transaksi-transaksi ini menunjukkan bahwa bank asing semakin menganggap akuisisi dan kemitraan sebagai cara yang praktis untuk berekspansi di India, yang pasar perbankannya bernilai US$3,65 triliun.

Sebaliknya, China kesulitan menarik partisipasi asing yang lebih besar, meski pembatasan telah dilonggarkan sejak 2001.

Pangsa bank asing di pasar perbankan China yang bernilai US$70,93 triliun turun menjadi 1,2% pada 2024 dari 1,5% pada 2020, menurut Laurent Doucet, Partner di Roland Berger.

“[Meski] liberalisasi regulasi telah berlangsung beberapa gelombang, jumlah anak usaha berbadan hukum lokal dan kantor cabang bank asing stagnan sejak 2018, bahkan beberapa pemain hengkang dari bisnis ritel di China karena persaingan yang ketat,” ujarnya.

Bank asing yang mendirikan unit berbadan hukum lokal di China membutuhkan modal minimal US$149 juta, dibandingkan US$53 juta untuk unit milik penuh di India, menurut Roland Berger.

China juga mengizinkan kantor cabang bank asing dengan dana operasional minimum US$29,9 juta (RMB200 juta), tetapi pembatasan membatasi kegiatan perbankan ritelnya.

Ekspansi kantor cabang bank asing di India dibatasi oleh komitmen Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang hanya mengizinkan 12 cabang tambahan per tahun untuk seluruh bank asing.

Unit bank asing di India juga wajib menyalurkan minimal 40% kredit yang memenuhi syarat ke sektor prioritas yang ditetapkan bank sentral negara tersebut.

Sehgan mengatakan akuisisi memerlukan persetujuan dari regulator perbankan, pasar modal, dan persaingan usaha, sehingga proses perizinan menjadi sumber keterlambatan yang signifikan.

Jasper Yip, Head of Greater China di Oliver Wyman Group, mengatakan persyaratan data, teknologi, dan keamanan di China menambah biaya bagi bank internasional yang beroperasi di banyak pasar.

Perbedaan ini membentuk pandangan bank asing tentang peluang di masing-masing pasar.

Di China, menurut Yip, bank asing dapat memanfaatkan hubungan lokal dengan perusahaan China yang berekspansi ke luar negeri untuk menghasilkan bisnis di Hong Kong dan jaringan internasional mereka.

“Kehadiran di daratan bisa menjadi mesin pencipta hubungan bisnis yang pada akhirnya menciptakan nilai di Hong Kong dan jaringan internasional bank yang lebih luas,” ujarnya dalam jawaban tertulis melalui email.

Doucet mengatakan bank asing juga dapat melayani perusahaan luar negeri yang masuk ke China dan menyediakan layanan manajemen kekayaan lintas negara.

India menawarkan peluang di perbankan korporasi, pembiayaan perdagangan, valuta asing, kustodian, pasar modal, dan manajemen kekayaan, kata Sehgan.

Menurutnya, bank yang sudah memiliki hubungan perdagangan, investasi, dan nasabah yang terkait dengan India berada di posisi terbaik untuk berekspansi.

Yip mengatakan pilihan antara kedua pasar pada akhirnya bergantung pada kemampuan masing-masing bank mengubah operasi lokal menjadi bisnis internasional yang lebih luas.

“Jawabannya bagi setiap bank bergantung pada franchise yang sudah dimiliki, termasuk kekuatan sektor dan nasabahnya, kapabilitas produk, tenaga di lapangan, serta kekuatan jaringan Hong Kong dan internasionalnya,” tambahnya.

Bank diminta berhenti jadikan Gen Z sekadar gimmick kartu kredit

Skema reward yang rumit dan syarat belanja dapat mengikis manfaat kartu.

Singapura buka pintu bagi stablecoin asing dengan aturan lebih ketat

Bank mungkin perlu mendirikan perusahaan terpisah untuk menerbitkan stablecoin dalam kerangka yang diusulkan.

Bank tinjau ulang kemitraan lintas negara seiring pembayaran beralih ke digital

Bank of America menilai standar bersama dan likuiditas 24 jam menjadi hambatan utama.

India tarik minat bank asing, ekspansi di China masih mahal

Mendirikan unit usaha di China butuh modal US$149 juta, sedangkan di India butuh US$53 juta.

Dengan AI, Superbank melihat lebih dari sekadar skor kredit

Bank ini memantau model kreditnya untuk mendeteksi bias dan menjaga kinerja.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.