, Hong Kong
743 views

Ivy Chan, BEA: Mengelola Risiko Perbankan dan Perubahan Akibat Perang Dagang

Ia tak pernah melihat pekerjaannya di dunia perbankan sebagai profesi yang berpihak pada laki-laki maupun perempuan.

Bagi Ivy Chan, Chief Risk Officer Bank of East Asia (BEA), tantangan dalam manajemen risiko tahun ini tidak ringan. Belakangan, Presiden AS Donald Trump kembali memperkeras kebijakan tarif di tengah memanasnya perang dagang global. Tugas Chan adalah menilai klien mana yang paling terdampak—dan siapa yang justru bisa diuntungkan.

“Kami harus segera menganalisis portofolio sendiri dan menerapkan mitigasi risiko agar bank tidak dirugikan akibat dampak yang dialami para nasabah,” ujar Chan kepada Asian Banking & Finance.

Memimpin tim beranggotakan 180 orang yang menangani nasabah di Hong Kong dan Tiongkok Daratan, Chan mengaku kekhawatiran terbesarnya saat ini adalah dampak perang tarif terhadap eksportir ke AS.

Trump memberlakukan tarif menyeluruh sekitar 20% terhadap Tiongkok, di luar bea masuk 10% yang sudah berlaku sejak masa jabatan pertamanya. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif hingga 15% atas produk pertanian dari AS.

“Kami harus mengidentifikasi nasabah yang mungkin terkena dampak besar, dan mereka yang relatif aman—misalnya perusahaan yang sudah memiliki fasilitas produksi di Asia Tenggara selain di Tiongkok,” jelas Chan melalui sambungan telepon.

Selain risiko kredit dan operasional, Chan juga menangani seluruh risiko non-keuangan—mulai dari kesalahan hingga pelanggaran kepatuhan—bagi bank independen terbesar di Hong Kong yang juga menjadi salah satu bank keluarga terakhir di sana.

Dengan pengalaman dua dekade di bidang manajemen risiko, Chan melihat perannya sebagai “perekat” karena ia harus membicarakan risiko ini bukan hanya dengan nasabah, tetapi juga dengan dewan direksi dan regulator BEA.

Ia menegaskan bahwa profesinya tak pernah bias terhadap gender. Ketertarikannya pada perbankan bahkan lebih kuat dibanding karier di bidang akuntansi dan perpajakan setelah menghadiri kegiatan rekrutmen kampus 32 tahun lalu.

“Saya tidak pernah merasa ada bias di industri perbankan, maupun di bank tempat saya bekerja selama ini,” katanya.

Menurutnya, para atasan laki-laki kala itu justru berupaya mendorong kemajuan bankir perempuan. Tidak ada hambatan bagi mereka untuk meniti karier lebih tinggi.

“Kalau melihat ke belakang, menurut saya semua tergantung pada pribadi masing-masing: apakah kita mau mengambil kendali atas karier kita sendiri, dan apakah kita mendapat dukungan dari senior—baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.

Ke depan, Chan menilai kecerdasan buatan (AI) akan memainkan peran penting dalam manajemen risiko.

“Lima atau enam tahun lalu, jarang terpikirkan menggunakan AI di perbankan untuk membantu mengelola risiko,” ungkapnya. Saat ini, AI digunakan untuk menganalisis data nasabah dan memperlancar proses manajemen risiko.

“Saya membayangkan akan ada banyak perubahan dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.