Bank tinjau ulang kemitraan lintas negara seiring pembayaran beralih ke digital
Bank of America menilai standar bersama dan likuiditas 24 jam menjadi hambatan utama.
Bank diperkirakan akan mengandalkan lebih sedikit mitra di luar negeri untuk pembayaran internasional, seiring platform digital menyederhanakan transaksi lintas negara, menurut Bank of America Corporation (BofA).
“Lembaga keuangan makin menginginkan jangkauan global lewat segelintir penyedia tepercaya, bukan jaringan kesepakatan bilateral yang dibangun pasar demi pasar,” ujar Siddharth Gupta, Asia-Pacific Head of Financial Institutions Group for Global Payments Solutions di BofA, kepada Asian Banking & Finance.
Mitra perbankan di luar negeri tetap penting untuk pembayaran internasional, penukaran mata uang, serta pengelolaan kas dan risiko, tetapi nasabah akan semakin jarang berhubungan langsung dengan mereka, ujarnya.
Platform digital dapat menghubungkan sistem pembayaran instan lokal, konversi mata uang, pemeriksaan kepatuhan, dan pelacakan transaksi, sehingga bank bisa memilih jalur pembayaran sesuai preferensi nasabah soal waktu pengiriman, biaya, dan mata uang.
Gupta mengatakan BofA bertujuan mengoordinasikan layanan-layanan ini, bukan meminta nasabah mengurus sendiri berbagai pengaturan pembayaran yang terpisah.
Ia memperkirakan stablecoin, deposito yang ditokenisasi (tokenised deposit), dan uang bank konvensional akan hidup berdampingan, bukan digantikan satu teknologi saja.
Gupta juga menyebut ISO 20022, standar internasional untuk pesan keuangan, sebagai hal penting untuk meningkatkan kualitas data pembayaran.
“Data yang lebih baik memungkinkan rekonsiliasi otomatis dari awal sampai akhir (straight-through reconciliation), penyaringan yang lebih efektif, deteksi fraud secara real-time, perkiraan yang lebih akurat, dan penanganan pengecualian yang lebih cepat,” ujarnya dalam jawaban tertulis melalui email.
Informasi pembayaran yang lebih rinci juga dapat mendukung kecerdasan buatan (AI). Platform CashPro milik BofA memakai data pembayaran dan valuta asing untuk membantu tim treasury korporasi mengenali pola transaksi.
Gupta menyebut sulitnya menghubungkan berbagai sistem pembayaran nasional sebagai hambatan terbesar bagi transfer internasional instan.
Bank dan penyedia pembayaran harus menyepakati standar teknis, identifikasi nasabah, tanggung jawab atas transaksi, dan akses ke dana selama 24 jam, ujarnya.
Penyelesaian instan juga mengharuskan bank meninjau ulang kapan dana harus tersedia dan bagaimana likuiditas dikelola.
Gupta mengatakan pada akhirnya nasabah seharusnya bisa memilih waktu pembayaran sesuai kebutuhan kas mereka, sementara bank memeriksa penerima, menerapkan kontrol transaksi, dan memilih jaringan pembayaran yang sesuai.
Tujuannya adalah agar penerima menerima dana dalam bentuk lokal yang mereka inginkan, dengan konfirmasi nyaris instan, biaya yang transparan, dan tanpa potongan tak terduga, tambahnya.